Iseng-iseng,
pulang kampung tahun ini aku kembali menemukan alamat blog yang dulu-dulu. Dalam satu buku, ada beberapa alamat blog-ku mulai dari jaman dulu, yang selalu tak pernah aku kembangin. Hanya stag di satu atau post saja, hahahaaaa ^.^
Ini adalah salah satu post-ku di jaman dulu yang menurutku masih menarik. Anggap aja ini kenang-kenangan. Jadi, dulu waktu masih sekolah aku sempet bikin makalah, jaman-jaman tahun 2010. Jadi maaf kalau aku belum mengekspos secara keseluruhan. Maklum, dulu aku belum punya banyak pengetahuan, masih amatiran, heheee...
GLOBALISASI DALAM SEPAKBOLA
BAB 1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sepak bola merupakan salah
satu cabang olahraga yang sangat popular, merakyat, dan digandrungi
semua kelompok umur hampir diseluruh dunia. Bagaimana gegap-gempitanya
dunia menyambut event pertandingan sepakbola seperti piala dunia, piala
eropa, perebutan piala champions, dll. Ratusan juta pasang mata bahkan
berada di depan televisi ketika ada pertandingan sepakbola yang penting.
Sepak
bola pada masa kekinian seolah hadir sebagai “agama baru” yang dapat
membius, memabukkan, memaniakkan sebagian penggemarnya. Pesona untuk
berkesempatan menikmati ke-sexy-nya permainan sepakbola terkadang mampu
menggeser kebiasaan, ibadah, dan pola hidup sebagian orang. Puluhan ribu
orang melupakan sholat Ashar, Magrib, melupakan waktu kebaktian hanya
untuk menonton sepak bola di stadion, mengorbankan waktu tidurnya untuk
menyaksikan siaran langsung, dst.
Sepak bola telah menjelma menjadi
sebuah entertaint, bisnis, isu yang sangat menarik perhatian, bagaimana
terbelalaknya dunia dengan berita transfer Ronaldo 1,3 Trilyun ke Real
Madrid, dengan gaji yang mencapai 3 milyar sepekan. Pada sisi lain
stasiun televisi bersaing ketat untuk mendapatkan sebuah hak siar,
puluhan milyar mereka investasikan untuk mendapatkan hak ini. Belum lagi
harga sebuah tiket pertandingan VVIP disebuah event besar yang bisa
mencapai 30 juta/ orang. Semua realitas sosial ini menunjukkan bahwa
sepakbola memang telah menjadi anak peradaban.
Untuk itu, Karya Tulis
yang dibuat ini akan memperlihatkan dan menjelaskan kebenaran mengenai
masalah pengaruh globalisasi sepakbola serta dampaknya bagi Indonesia
dengan berdasarkan studi literature dari berbagai sumber yang terpercaya
dan kompeten. Tapi sebelum membahas semua itu, penulis akan memberikan
beberapa pengertian tentang globalisasi dan resikonya pada beberapa
aspek, juga apa dampak positif dan negatifnya secara umum.
Tujuan
Tujuan secara umum dari pembuatan karya tulis ini adalah untuk mengetahui sejauh manakah pengaruh globalisasi sepakbola bagi bangsa Indonesia yang masih merupakan tanda tanya bagi masyarakat umumnya, termasuk penulis sendiri. Karena sampai saat ini kita belum mendapatkan jawaban pastinya.
Oleh karena itu melalui karya tulis ini diharapkan agar masyarakat umum dapat lebih mengetahuinya dan mempelajarinya. Serta semaksimal mungkin mencegah pengaruh negatifnya berkembang di Indonesia.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat-manfaat yang dapat kita peroleh dari karya tulis pengaruh globalisasi sepakbola dan dampaknya bagi Indonesia ini adalah : Untuk mengetahui secara jelas apakah itu globalisasi? Untuk mengetahui resikonya pada beberapa aspek? Untuk mengetahui pengaruh globalisasi sepakbola di Indonesia? Untuk mengetahui dampak positif dan negatifnya? Sehingga dapat mempresentasikannya dengan jelas dan lebih akurat.
BAB II GLOBALISASI
1. Pengertian Globalisasi
Kata ‘globalisasi’ berasal dari kata ‘global’, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti secara keseluruhan. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Beberapa pergertian lain:
2. Globalisasi dan Resiko
1. Lingkungan
a. Bergantungnya manusia pada sumber-sumber alam yang akan menyebabkan krisis lingkungan hidup.
b. Polusi lingkungan: pencemaran atmosfer dan sungai oleh limbah industri.
c. Masalah hutan: populasi dunia terlalu cepat dan banyak, sehingga lahan untuk perumahan dan bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan sudah mulai langka.
d. Pemanasan global (global warming). Peningkatan jumlah emisi (penyinaran/pemancaran) dari industri ke atmosfer meningkatkan suhu global.
2. Kesehatan
a. Manufactured risk pada makanan: kemajuan proses pembuatan makanan dengan zat kimia berbahaya sehingga muncul virus-virus baru, seperti flu babi.
3. Masyarakat resiko global
a. Perubahan pola pekerjaan, mundurnya tradisi dan adat-istiadat dalam identitas diri.
3. Aspek Positif dan Negatif Globalisasi
1. Aspek Positif
• Berkembangnya teknologi informasi, komunikasi dan transportasi menjadi lebih efektif dan efisien.
• Maraknya perkembangan industri sehingga lebih efektif dan efisien.
• Setiap Negara membuka peluang industri dan jasa sehingga tenaga ahli dari suatu negara dapat bekerja di negara lain.
• Manusia dapat bergerak dinamis kemanapun berada.
• Penyelenggaraan Negara dituntut transparan, demokratis dan menghargai HAM.
2. Aspek Negatif Globalisasi
• Kesenjangan ekonomi antara yang kaya dengan yang miskin.
• Negara yang perekonomiannya kuat, bersekongkol untung meraup untung sebesar-besarnya. Hal ini merugikan Negara miskin yang ekonominya lemah.
• Timbulnya fanatisme rasial, etnis dan agama dalam forum dan organisasi
• Kadar kualitas kejahatan semakin tinggi dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi.
• Mundurnya Sumber Daya Alam vital: air, hutan dan terjadinya pencemaran global.
BAB III Sepakbola Dan Globalisasi
1. Tabir Sepakbola
3. Suporter dan Kondisi Masyarakat Indonesia
BAB IV PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengaruh globalisasi sepak bola memiliki dampak positif dan negatif, yaitu :
Dampak positifnya :
Dampak negatif :
2. Saran
Sepakbola memang merupakan olahraga paling populer di Indonesia. Adanya globalisasi memang membawa pro dan kontra sendiri. Tak terkecuali globalisasi sepakbola. Ada yang bersikap rasional dengan mengatakan itu hanyalah olahraga biasa. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa menjadi pemain sepakbola adalah pekerjaannya. Atau mungkin, bagi kaum hawa seperti penulis ini sepakbola adalah tontonan yang menarik.
Macam-macam memang pendapatnya. Kita sebagai masyarakat Indonesia seharusnya menyikapinya dengan bijak. Apakah kita akan mempelajari positifnya atau mengambil negatifnya.
Dunia sepakbola yang keras dan penuh tantangan kadang memang membuat kita jadi tak terkendali. Kuncinya yaitu menjaga emosi dan tidak terpengaruh ajakan teman untuk tawuran, atau melukai dan memukul official.
Kita harus tetap fokus pada tujuan utama. Misal bekerja, kita harus fokus pada pertandingan. Jika ada suporter yang rusuh kita diam saja. Bukankah ada keamanan yang mengurusi. Jika kita sebagai suporter, bertindaklah sebagai suporter yang sportif. Bila tim favorit kita kalah, kita harus berjiwa besar dan menerima kekalahan tadi. Pemain atau pelatihnya saja bisa menerima kekalahan tapi kita sebagai penonton malah tidak bisa menerima kekalahan.
DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://suciamalia.blogspot.com2008/11/globalisasi.html
http://fleahlit.blogspot.com/2007/08/sepakbola,judi dan masyarakat.html
http://www.google.co.id/search?q=sepak+bola&hl=id&client=firefox-a&channel=s&rls=org.mozilla:en-US:official&hs=fOr&start=20&sa=N
http://nofieiman.com/2008/01/sepakbola,emosi dan kerusuhan.html
http://www.kompas.com
http://www.rizal.blogspot.com/2009/05/pemain asing dan prestasi timnas Indonesia.html
http://www.biangbola.com
http://www.younkhendra.blogspot.com/
http://www.yudhi.blogspot.com/2009/02/ContohKaryaTulis.html
Tujuan
Tujuan secara umum dari pembuatan karya tulis ini adalah untuk mengetahui sejauh manakah pengaruh globalisasi sepakbola bagi bangsa Indonesia yang masih merupakan tanda tanya bagi masyarakat umumnya, termasuk penulis sendiri. Karena sampai saat ini kita belum mendapatkan jawaban pastinya.
Oleh karena itu melalui karya tulis ini diharapkan agar masyarakat umum dapat lebih mengetahuinya dan mempelajarinya. Serta semaksimal mungkin mencegah pengaruh negatifnya berkembang di Indonesia.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat-manfaat yang dapat kita peroleh dari karya tulis pengaruh globalisasi sepakbola dan dampaknya bagi Indonesia ini adalah : Untuk mengetahui secara jelas apakah itu globalisasi? Untuk mengetahui resikonya pada beberapa aspek? Untuk mengetahui pengaruh globalisasi sepakbola di Indonesia? Untuk mengetahui dampak positif dan negatifnya? Sehingga dapat mempresentasikannya dengan jelas dan lebih akurat.
BAB II GLOBALISASI
1. Pengertian Globalisasi
Kata ‘globalisasi’ berasal dari kata ‘global’, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti secara keseluruhan. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Beberapa pergertian lain:
1. Malcolm Waters
Sebuah proses social yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan social budaya menjadi kurang penting yang terjelma dalam kesadaran seseorang.
2. Emmanuel Ritcher
Jaringan kerja global yang secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar dan terisolasi ke dalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.
3. Selo Soemarjan
Terbentuknya system organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti system dan kaidah yang sama.
4. The American Heritage Dictionary
Suatu tindakan/proses menjadikan sesuatu yang mendunia (inuversal) baik dalam lingkup/aplikasinya.
2. Globalisasi dan Resiko
1. Lingkungan
a. Bergantungnya manusia pada sumber-sumber alam yang akan menyebabkan krisis lingkungan hidup.
b. Polusi lingkungan: pencemaran atmosfer dan sungai oleh limbah industri.
c. Masalah hutan: populasi dunia terlalu cepat dan banyak, sehingga lahan untuk perumahan dan bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan sudah mulai langka.
d. Pemanasan global (global warming). Peningkatan jumlah emisi (penyinaran/pemancaran) dari industri ke atmosfer meningkatkan suhu global.
2. Kesehatan
a. Manufactured risk pada makanan: kemajuan proses pembuatan makanan dengan zat kimia berbahaya sehingga muncul virus-virus baru, seperti flu babi.
3. Masyarakat resiko global
a. Perubahan pola pekerjaan, mundurnya tradisi dan adat-istiadat dalam identitas diri.
3. Aspek Positif dan Negatif Globalisasi
1. Aspek Positif
• Berkembangnya teknologi informasi, komunikasi dan transportasi menjadi lebih efektif dan efisien.
• Maraknya perkembangan industri sehingga lebih efektif dan efisien.
• Setiap Negara membuka peluang industri dan jasa sehingga tenaga ahli dari suatu negara dapat bekerja di negara lain.
• Manusia dapat bergerak dinamis kemanapun berada.
• Penyelenggaraan Negara dituntut transparan, demokratis dan menghargai HAM.
2. Aspek Negatif Globalisasi
• Kesenjangan ekonomi antara yang kaya dengan yang miskin.
• Negara yang perekonomiannya kuat, bersekongkol untung meraup untung sebesar-besarnya. Hal ini merugikan Negara miskin yang ekonominya lemah.
• Timbulnya fanatisme rasial, etnis dan agama dalam forum dan organisasi
• Kadar kualitas kejahatan semakin tinggi dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi.
• Mundurnya Sumber Daya Alam vital: air, hutan dan terjadinya pencemaran global.
BAB III Sepakbola Dan Globalisasi
1. Tabir Sepakbola
Siapa yang bisa menyangkal bahwa sepakbola adalah permainan terpopuler di dunia sekarang ini? Cita rasa yang terkandung dalam sepakbola tiada batas. Sepakbola kadang juga disebut sebagai bahasa universal dalam segala bidang. Namun, apabila kita menganalisis lebih dalam kajian sepakbola global yang sekarang ini, maka kita akan menemukan telah terjadi degradasi dalam sepakbola itu sendiri.
Dimulai dari lahirnya oligarki baru dalam sepakbola, industrialisasi instan, kapitalisme modern, hingga globalisasi. Globalisasi sepakbola, telah membawa dampak yang signifikan terhadap sepakbola itu sendiri.2. Pemain Asing; Prestasi Timnas Indonesia
Sepakbola telah menjelma menjadi suatu kebutuhan dalam diri penikmatnya, dan hal ini dimanfaatkan secara baik oleh kaum kapitalisme modern. Penulis tidak menampik bahwa sejauh ini, globalisasi jugalah yang menjadikan olahraga kulit bundar ini menjadi olaharaga familiar di jagad raya.
Itulah sepakbola, artian dalam universal mencakup semua pihak. Sepakbola dihadapkan pada dilema yang tidak ada habisnya. Di satu sisi, sepakbola merasa bangga dengan kepopulerannya, namun di sisi yang lain secara bersamaan menyebabkan degradasi terhadap permainan sepakbola itu sendiri.
Dalam sejarah perkembangan sepak bola dunia mulai kelahiranya sejak ratusan tahun Sebelum Masehi. Sampai pada sepak bola modern yang juga panjang sejarahnya, melahirkan beragam peraturan, melahirkan tim sepakbola atau klub-klub besar, melahirkan kompetisi-kompetisi yang elit, melahirkan pemain-pemain yang fenomenal.
Sepak Bola telah tumbuh dan berkembang bagaikan pohon kehidupan yang melintas lebatnya hutan sejarah dunia. Pesat dan matangnya perkembangan sepak bola tidak lepas pula dengan lahirnya lembaga yang mengurusinya seperti FIFA ( Federation Internatinale de Football Association ) yang menjadi induk organisasi sepak bola negara-negara didunia. Lahirnya lembaga ini disusul lembaga-lembaga regional yang mengorganisir beberapa Negara diwilayah masing-masing. Seperti AFC ( Asian Football Confederation ) yang mengurusi Negara Asia, dan Indonesia tentu juga masuk menjadi anggotanya.
BLI ( Badan Liga Indonesia ) membatasi jumlah pemain asing non-Asia dari lima orang menjadi tiga orang. Keputusan tersebut dianggap bijak karena selama ini pemain lokal merasakan dampak dari penerapan regulasi diizinkanya memakai lima pemain asing. Kesempatan pemain lokal untuk berkembang menjadi berkurang karena jarang diturunkan dan lebih banyak dicadangkan dan penerapan regulasi baru ini secara tidak langsung akan berdampak baik kepada Timnas Indonesia.
Namun sebenarnya, dibolehkannya para pemain asing untuk berlaga di Liga Indonesia, adalah agar bisa meningkatkan kualitas para pemain kita, yang ujung-ujungnya mampu mengangkat prestasi timnas dalam kancah persaingan di tingkat Asia dan bahkan dunia.
Namun ternyata prestasi timnas kita masih tetap terpuruk. Jangankan di tingkat Asia dan dunia, untuk tingkat Asia Tenggara saja masih belum menunjukan prestasi yang diharapkan. Untuk mengalahkan Vietnam, Thailand dan bahkan Singapura saja, kita masih sulit. Jadi pertanyaannya apakah kehadiran pemain asing dalam kancah persepakbolaan kita itu, mempunyai pengaruh yang signifikan dalam menunjang prestasi timnas? Tentu sulit untuk menjawabnya.
Pertanyaan itu ternyata bukan milik kita saja. Dulu, kalangan sepakbola di Inggris dan Spanyol sempat melontarkan keluhan atas kehadiran pemain asing itu. Mereka menilai, kehadiran pemain asing hanya bermanfaat untuk meningkatkan prestasi klub serta mampu menjadi daya tarik yang kuat bagi para penggila bola. Namun pengaruh positif bagi pembentukan timnas masih perlu dipertanyakan.
Negeri jiran juga mengeluhkan keberadaan pemain asing yang tidak mampu mengangkat prestasi timnas Malaysia, sehingga dalam musim mendatang, klub di Malaysia kemungkinan tidak diperbolehkan untuk merekrut pemain asing.
Apakah kita akan mengikuti Malaysia, tentu hal itu harus dipertimbangkan untung ruginya secara lebih matang. Memang benar ada yang mengeluhkan keberadaan pemain asing menghambat pemain lokal untuk mengasah kemampuannya. Keluhan itu banyak dilontarkan para pemain lokal. Namun melarang pemain asing juga merupakan hal yang kurang bijaksana, karena di negara yang persepakbolaannya maju, kehadiran pemain asing masih diperlukan.
Keluhan pemain lokal memang bisa difahami, betapa tidak pemain lokal sekelas Zaenal Arief, Atep, Siswanto (Persib), Dicky Firasat (Persela Lamongan) harus setia berlama-lama duduk di bangku cadangan. Ini jelas merugikan bagi yang bersangkutan. Atep, Zaenal Arief dan Siswanto bahkan sempat mengancam akan hengkang dari Persib bila tetap tak dimainkan. Ada contoh yang baik, betapa bagusnya pemain lokal bila diberikan kepercayaan menjadi starter. Misalnya Persija dan Persik Kediri. Di Persija, Bambang Pamungkas, Ponaryo Astaman dan Aliyudin tetap menjadi pilihan utama. Di Persik Kediri, yang saat ini hanya memiliki Ronald Fagundez, ternyata mampu memaksimalkan pemain lokal, sebut saja Mahyudin Panggabean dan Saktiawan Sinaga. Mereka berhasil menutup lobang yang ditinggal Christian Gonzales.
Seperti diulas di atas, meniadakan pemain asing adalah tindakan yang kurang bijsakana, maka BLI sudah sepatutnya mulai merencanakan untuk mengurangi pemain asing, menjadi maksimal tiga orang di setiap klubnya dari lima orang yang saat ini diizinkan. Apabila hal itu diterapkan BLI, maka keinginan pemain lokal untuk bisa mengasah kemampuannya bisa terakomodasikan.
Dengan demikian diharapkan para pemain lokal yang potensial akan lebih sering menjadi starter, dan tidak hanya duduk di bangku cadangan. Bukankah mereka ini generasi penerus Budi Sudarsono, Ponaryo Astaman, Bambang Pamungkas, dll. Apabila para pemain lokal lebih sering bertanding diharapkan mampu meningkatkan kualitas permainannya dan ujung-ujung akan memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan prestasi timnas.
Timnas yang kuat dan mampu menunjukan prestasinya di tingkat Asia dan bahkan mungkin dunia, akan memberikan kebanggaan bagi pecinta sepakbola nasional, dan bahkan bagi Bangsa Indonesia. Dengan Timnas yang berprestasi, maka keinginan kita untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 mendatang, bukan hanya mimpi, dan tidak hanya jadi bahan tertawaan bangsa lain.
Meskipun akan berdampak baik bagi pemain lokal, tapi di satu sisi, pengurangan jumlah pemain asing ini kemungkinan besar akan berpengaruh kepada animo masyarakat dalam penyaksikan pertandingan sepak bola. Karena kompetisi di Indonesia dinilai lebih bergairah dibandingkan kompetisi di negara-negara di Asia Tenggara lainnya dan yang memiliki andil besar adalah karena banyaknya pemain asing yang merumput di sini.
Kebaradaan pemain asing di kancah persepakbolaan nasional, harus diakui menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta sepakbola di Indonesia. Apalagi saat ini banyak pemain-pemain asing yang cukup berkualitas, dan bahkan sempat tampil berlaga di piala dunia. Keadaan ini juga yang menjadikan Indonesia memiliki jatah langsung berlaga di Liga Champions Asia (LCA) atau Asian Football Confederation (AFC) Cup setiap tahun.
Indonesia memiliki kualitas kompetisi yang levelnya di atas negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Ini suatu hal yang membanggakan. Tapi, terlepas dari hal ini, kita juga harus memikirkan kondisi timnas kita yang membawa nama bangsa di ajang internasional. Jika ingin bangkit dari keterpurukkan, salah satunya dengan memberikan banyak kesempatan kepada pemain lokal berlaga di kompetisi domestik sehingga mereka yang nantinya menjadi bagian timnas adalah sosok pemain yang berkualitas.
Namun tidak sedikit juga pemain asing yang belum memperlihatkan sikap profesianal dan bahkan menjadi biang kerusuhan di semua kasta Liga Indonesia, Divisi Utama dan Liga Super Indonesia ( LSI ). Adanya aturan BLI (Badan Liga Indonesia ) yang menerapkan syarat yang ketat bagi pemain asing, sedikit banyak membuat pemain asing yang tampil di Liga Indonesia sudah semakin baik. Sebut saja Julio Lopez, Ngon Ajam, Marcio Souza, Zahrahan, Keith Cayamba Gumb, adalah pemain asing yang memang berkualitas dan menjadi pujaan para suporter. Christian Gonzalez, oleh Situs Goal dan AFC, bahkan dinobatkan sebagai 10 pemain paling berpengaruh di Asia.
3. Suporter dan Kondisi Masyarakat Indonesia
Mungkin cuma di Indonesia penonton bisa terjun langsung menggapluk wasit dan hakim garis. Memang bukan hal baru karena (hampir) setiap pertandingan selalu berakhir rusuh. Soal official saling gebuk juga bukan hal baru. Sekitar dua tahun lalu, pertandingan antara Persigo dan Persiwa juga diwarnai official saling berantem. Mestinya hak siar sepakbola di Indonesia naik harganya karena tayangan 90 menit masih ditambah bonus rusuh 2-3 jam sesudahnya.
Di luar negeri, sepakbola atau pertandingan lain yang berujung rusuh memang beberapa kali terjadi, namun biasanya dilakukan di luar lapangan. Dengan demikian, pertandingan tidak terhenti dan fasilitas dalam stadion relatif tidak menjadi korban. Namun yang menarik, penambahan jumlah polisi ternyata tidak menyelesaikan masalah—terkadang malah bisa memicu kerusuhan yang lebih besar.
Dari sisi suporter, sudah barang lazim fanatisme suporter klub sepakbola Indonesia seperti menjadi gejala sosial yang berujung pada kondisi sosio-ekonomi masyarakat Indonesia saat ini, yang erat berkaitan dengan kefrustrasian dan keterpurukan. Hitam putih dunia suporter Indonesia selalu berkelindan dan bertumpang tindih dengan hiruk pikuk kompleksitas bangsa Indonesia dalam segala hal yang mencakup politik, budaya, pendidikan dan ekonomi. Sepakbola Indonesia memang terlanjur identik dengan keterbelakangan, keterpurukan dan dijejali kaum pinggiran.
Pilihan sebagai pesepakbola lebih sering didasari atas minimnya kesempatan di bidang lain yang lebih menjanjikan. Ketika dunia pendidikan tidak cukup bersahabat dengan dirinya atas kondisi ketakberpihakan dan ketakberdayaan biaya, maka sepakbola adalah pilihan yang sangat menjanjikan untuk melihat hari di depan kalau tidak mau terus menerus berdekatan dengan ketakberpihakan. Sayangnya dunia sepakbola yang menjadi harapan tidak banyak memberikan kesempatan dalam mencapai tujuan ini.
Dalam sisi lain, menjadi suporter fanatik adalah cara untuk melepaskan diri dari persoalan sehari-hari dan pelarian dari rasa frustrasi berkepanjangan sebagai bangsa selain sebagai cara-cara untuk aktualisasi identitas dan kebutuhan terhadap pencitraan. Satu hal lagi, ajang suporter juga menjadi salah satu wadah lanjutan dari konflik kehidupan sehari-hari yang terkait pelik dengan keterdesakan demografis dan ekonomi sehingga apa yang terjadi dalam lingkungan suporter sepakbola selalu persis dengan apa yang terjadi di kehidupan bangsa Indonesia.
Keterdesakan demografis dan ekonomi yang penulis maksud adalah penduduk Indonesia yang terus tumbuh dimana hal ini menyebabkan kondisi saling sikut dan saling kompetisi untuk bertahan sekedar survive sementara hal ini tidak berbarengan dengan kesempatan ekonomi. Pada titik limit ( batas ) kompetisi, aksi tipu-menipu, kriminalitas, penjarahan, tawuran, intoleransi menjadi warna sehari-hari dan dapat diperankan secara persis di dunia suporter sepakbola.
Suka tidak suka, fenomena Bonek ( sebutan penggemar PERSEBAYA ) adalah salah satu contohnya. Berbagai kerusuhan antarsuporter yang selama ini sering terjadi menegaskan potret buram atas latar belakang sekaligus gejala sosial yang memangku kehidupan bangsa Indonesia secara umum. Kerusuhan dan keributan seolah sudah menjadi paket yang disiapkan dari rumah dan akan diperankan dalam menonton sepakbola nantinya.
BAB IV PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengaruh globalisasi sepak bola memiliki dampak positif dan negatif, yaitu :
Dampak positifnya :
1. Kita (selaku penikmat bola) disuguhkan pertandingan yang indah dan berkualitas.
2. Merupakan alat pemersatu dari semua generasi, baik tua maupun muda akan merasa menyatu jiwanya bila melihat tim nasional ( timnas ) negaranya bertanding.
3. Sepakbola menjadi harapan untuk mendapatkan penghasilan.
4. Sebagai wadah untuk mengasah bakat dan kemampuan sehingga bisa tersalurkan dan dapat menjadi pemain sepakbola yang handal dan profesional.
5. Mengajarkan sikap sportif dan berjiwa besar.
6. Menyatukan berbagai suku bangsa dengan cara ikut bergabung dengan klub penggemar salah satu tim sepakbola, misal Jakmania.
7. Mengharumkan nama bangsa dan memberikan kebanggaan bagi pecinta sepakbola nasional apabila Indonesia atau klub perwakilan dari Indonesia mengikuti turnamen dalam lingkup internasional dan dapat memenangkannya.
8. Adanya pemain asing adalah untuk meningkatkan kualitas para pemain kita agar dapat mengangkat prestasi timnas dalam kancah persaingan di tingkat Asia dan bahkan dunia.
Dampak negatif :
1. Entitas sepakbola mengalami penurunan. Hal ini bukan isapan jempol belaka, tanpa kita bayangkan setiap hari sabtu dan minggu ada beberapa stasiun televisi yang menayangkan pertandingan sepakbola secara berkala.
2. Menghambur-hamburkan uang, yaitu dengan cara pergi ke kota tempat klub favorit bermarkas dan menonton secara langsung pertandingan klub yang bersangkutan. Cara ini tentu dapat dikatakan sebagai cara yang amat memerlukan potensi ekonomi yang cukup tinggi. Apalagi bila klub favorit yang dimaksud berada di luar negeri.
3. Masyarakat yang biasanya menyaksikan sepakbola tidak jarang melakukan judi dengan cara menebak siapa yang akan memenangkan pertandingan atau menebak berapakah jumlah skor akhir pertandingan.
4. Sering terjadinya kerusuhan antar suporter yang dipicu oleh kekalahan tim favoritnya atau masa tidak terima bila ada salah satu pemain yang melanggar tapi tidak diberi hukuman.
5. Kehadiran pemain asing hanya bermanfaat untuk meningkatkan prestasi klub saja serta hanya menjadi daya tarik bagi para penggila bola. Namun bagi pembentukan timnas belum ada manfaatnya.
2. Saran
Sepakbola memang merupakan olahraga paling populer di Indonesia. Adanya globalisasi memang membawa pro dan kontra sendiri. Tak terkecuali globalisasi sepakbola. Ada yang bersikap rasional dengan mengatakan itu hanyalah olahraga biasa. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa menjadi pemain sepakbola adalah pekerjaannya. Atau mungkin, bagi kaum hawa seperti penulis ini sepakbola adalah tontonan yang menarik.
Macam-macam memang pendapatnya. Kita sebagai masyarakat Indonesia seharusnya menyikapinya dengan bijak. Apakah kita akan mempelajari positifnya atau mengambil negatifnya.
Dunia sepakbola yang keras dan penuh tantangan kadang memang membuat kita jadi tak terkendali. Kuncinya yaitu menjaga emosi dan tidak terpengaruh ajakan teman untuk tawuran, atau melukai dan memukul official.
Kita harus tetap fokus pada tujuan utama. Misal bekerja, kita harus fokus pada pertandingan. Jika ada suporter yang rusuh kita diam saja. Bukankah ada keamanan yang mengurusi. Jika kita sebagai suporter, bertindaklah sebagai suporter yang sportif. Bila tim favorit kita kalah, kita harus berjiwa besar dan menerima kekalahan tadi. Pemain atau pelatihnya saja bisa menerima kekalahan tapi kita sebagai penonton malah tidak bisa menerima kekalahan.
DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://suciamalia.blogspot.com2008/11/globalisasi.html
http://fleahlit.blogspot.com/2007/08/sepakbola,judi dan masyarakat.html
http://www.google.co.id/search?q=sepak+bola&hl=id&client=firefox-a&channel=s&rls=org.mozilla:en-US:official&hs=fOr&start=20&sa=N
http://nofieiman.com/2008/01/sepakbola,emosi dan kerusuhan.html
http://www.kompas.com
http://www.rizal.blogspot.com/2009/05/pemain asing dan prestasi timnas Indonesia.html
http://www.biangbola.com
http://www.younkhendra.blogspot.com/
http://www.yudhi.blogspot.com/2009/02/ContohKaryaTulis.html