Sabtu, 25 Agustus 2012

Globalisasi dalam SepakBola

Iseng-iseng,
pulang kampung tahun ini aku kembali menemukan alamat blog yang dulu-dulu. Dalam satu buku, ada beberapa alamat blog-ku mulai dari jaman dulu, yang selalu tak pernah aku kembangin. Hanya stag di satu atau post saja, hahahaaaa ^.^
Ini adalah salah satu post-ku di jaman dulu yang menurutku masih menarik. Anggap aja ini kenang-kenangan. Jadi, dulu waktu masih sekolah aku sempet bikin makalah, jaman-jaman tahun 2010. Jadi maaf kalau aku belum mengekspos secara keseluruhan. Maklum, dulu aku belum punya banyak pengetahuan, masih amatiran, heheee...

GLOBALISASI DALAM SEPAKBOLA
BAB 1 PENDAHULUAN 

Latar Belakang 
  Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang sangat popular, merakyat, dan digandrungi semua kelompok umur hampir diseluruh dunia. Bagaimana gegap-gempitanya dunia menyambut event pertandingan sepakbola seperti piala dunia, piala eropa, perebutan piala champions, dll. Ratusan juta pasang mata bahkan berada di depan televisi ketika ada pertandingan sepakbola yang penting.
  Sepak bola pada masa kekinian seolah hadir sebagai “agama baru” yang dapat membius, memabukkan, memaniakkan sebagian penggemarnya. Pesona untuk berkesempatan menikmati ke-sexy-nya permainan sepakbola terkadang mampu menggeser kebiasaan, ibadah, dan pola hidup sebagian orang. Puluhan ribu orang melupakan sholat Ashar, Magrib, melupakan waktu kebaktian hanya untuk menonton sepak bola di stadion, mengorbankan waktu tidurnya untuk menyaksikan siaran langsung, dst.
  Sepak bola telah menjelma menjadi sebuah entertaint, bisnis, isu yang sangat menarik perhatian, bagaimana terbelalaknya dunia dengan berita transfer Ronaldo 1,3 Trilyun ke Real Madrid, dengan gaji yang mencapai 3 milyar sepekan. Pada sisi lain stasiun televisi bersaing ketat untuk mendapatkan sebuah hak siar, puluhan milyar mereka investasikan untuk mendapatkan hak ini. Belum lagi harga sebuah tiket pertandingan VVIP disebuah event besar yang bisa mencapai 30 juta/ orang. Semua realitas sosial ini menunjukkan bahwa sepakbola memang telah menjadi anak peradaban.
  Untuk itu, Karya Tulis yang dibuat ini akan memperlihatkan dan menjelaskan kebenaran mengenai masalah pengaruh globalisasi sepakbola serta dampaknya bagi Indonesia dengan berdasarkan studi literature dari berbagai sumber yang terpercaya dan kompeten. Tapi sebelum membahas semua itu, penulis akan memberikan beberapa pengertian tentang globalisasi dan resikonya pada beberapa aspek, juga apa dampak positif dan negatifnya secara umum. 

Tujuan
  Tujuan secara umum dari pembuatan karya tulis ini adalah untuk mengetahui sejauh manakah pengaruh globalisasi sepakbola bagi bangsa Indonesia yang masih merupakan tanda tanya bagi masyarakat umumnya, termasuk penulis sendiri. Karena sampai saat ini kita belum mendapatkan jawaban pastinya.
  Oleh karena itu melalui karya tulis ini diharapkan agar masyarakat umum dapat lebih mengetahuinya dan mempelajarinya. Serta semaksimal mungkin mencegah pengaruh negatifnya berkembang di Indonesia. 

Manfaat Penelitian
  Adapun manfaat-manfaat yang dapat kita peroleh dari karya tulis pengaruh globalisasi sepakbola dan dampaknya bagi Indonesia ini adalah : Untuk mengetahui secara jelas apakah itu globalisasi? Untuk mengetahui resikonya pada beberapa aspek? Untuk mengetahui pengaruh globalisasi sepakbola di Indonesia? Untuk mengetahui dampak positif dan negatifnya? Sehingga dapat mempresentasikannya dengan jelas dan lebih akurat.

BAB II GLOBALISASI

1. Pengertian Globalisasi
  Kata ‘globalisasi’ berasal dari kata ‘global’, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti secara keseluruhan. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Beberapa pergertian lain:
1. Malcolm Waters
Sebuah proses social yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan social budaya menjadi kurang penting yang terjelma dalam kesadaran seseorang.
2. Emmanuel Ritcher
Jaringan kerja global yang secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar dan terisolasi ke dalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.
3. Selo Soemarjan
Terbentuknya system organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti system dan kaidah yang sama.
4. The American Heritage Dictionary
Suatu tindakan/proses menjadikan sesuatu yang mendunia (inuversal) baik dalam lingkup/aplikasinya.

2. Globalisasi dan Resiko

1. Lingkungan
a. Bergantungnya manusia pada sumber-sumber alam yang akan menyebabkan krisis lingkungan hidup.
b. Polusi lingkungan: pencemaran atmosfer dan sungai oleh limbah industri.
c. Masalah hutan: populasi dunia terlalu cepat dan banyak, sehingga lahan untuk perumahan dan bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan sudah mulai langka.
d. Pemanasan global (global warming). Peningkatan jumlah emisi (penyinaran/pemancaran) dari industri ke atmosfer meningkatkan suhu global.
2. Kesehatan
a. Manufactured risk pada makanan: kemajuan proses pembuatan makanan dengan zat kimia berbahaya sehingga muncul virus-virus baru, seperti flu babi.
3. Masyarakat resiko global
a. Perubahan pola pekerjaan, mundurnya tradisi dan adat-istiadat dalam identitas diri.

3. Aspek Positif dan Negatif Globalisasi
1. Aspek Positif
• Berkembangnya teknologi informasi, komunikasi dan transportasi menjadi lebih efektif dan efisien.
• Maraknya perkembangan industri sehingga lebih efektif dan efisien.
• Setiap Negara membuka peluang industri dan jasa sehingga tenaga ahli dari suatu negara dapat bekerja di negara lain.
• Manusia dapat bergerak dinamis kemanapun berada.
• Penyelenggaraan Negara dituntut transparan, demokratis dan menghargai HAM.
2. Aspek Negatif Globalisasi
• Kesenjangan ekonomi antara yang kaya dengan yang miskin.
• Negara yang perekonomiannya kuat, bersekongkol untung meraup untung sebesar-besarnya. Hal ini merugikan Negara miskin yang ekonominya lemah.
• Timbulnya fanatisme rasial, etnis dan agama dalam forum dan organisasi
• Kadar kualitas kejahatan semakin tinggi dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi.
• Mundurnya Sumber Daya Alam vital: air, hutan dan terjadinya pencemaran global.

BAB III Sepakbola Dan Globalisasi

1. Tabir Sepakbola
Siapa yang bisa menyangkal bahwa sepakbola adalah permainan terpopuler di dunia sekarang ini? Cita rasa yang terkandung dalam sepakbola tiada batas. Sepakbola kadang juga disebut sebagai bahasa universal dalam segala bidang. Namun, apabila kita menganalisis lebih dalam kajian sepakbola global yang sekarang ini, maka kita akan menemukan telah terjadi degradasi dalam sepakbola itu sendiri. 
Dimulai dari lahirnya oligarki baru dalam sepakbola, industrialisasi instan, kapitalisme modern, hingga globalisasi. Globalisasi sepakbola, telah membawa dampak yang signifikan terhadap sepakbola itu sendiri.
Sepakbola telah menjelma menjadi suatu kebutuhan dalam diri penikmatnya, dan hal ini dimanfaatkan secara baik oleh kaum kapitalisme modern. Penulis tidak menampik bahwa sejauh ini, globalisasi jugalah yang menjadikan olahraga kulit bundar ini menjadi olaharaga familiar di jagad raya.
Itulah sepakbola, artian dalam universal mencakup semua pihak. Sepakbola dihadapkan pada dilema yang tidak ada habisnya. Di satu sisi, sepakbola merasa bangga dengan kepopulerannya, namun di sisi yang lain secara bersamaan menyebabkan degradasi terhadap permainan sepakbola itu sendiri.
Dalam sejarah perkembangan sepak bola dunia mulai kelahiranya sejak ratusan tahun Sebelum Masehi. Sampai pada sepak bola modern yang juga panjang sejarahnya, melahirkan beragam peraturan, melahirkan tim sepakbola atau klub-klub besar, melahirkan kompetisi-kompetisi yang elit, melahirkan pemain-pemain yang fenomenal.
Sepak Bola telah tumbuh dan berkembang bagaikan pohon kehidupan yang melintas lebatnya hutan sejarah dunia. Pesat dan matangnya perkembangan sepak bola tidak lepas pula dengan lahirnya lembaga yang mengurusinya seperti FIFA ( Federation Internatinale de Football Association ) yang menjadi induk organisasi sepak bola negara-negara didunia. Lahirnya lembaga ini disusul lembaga-lembaga regional yang mengorganisir beberapa Negara diwilayah masing-masing. Seperti AFC ( Asian Football Confederation ) yang mengurusi Negara Asia, dan Indonesia tentu juga masuk menjadi anggotanya.
2. Pemain Asing; Prestasi Timnas Indonesia

BLI ( Badan Liga Indonesia ) membatasi jumlah pemain asing non-Asia dari lima orang menjadi tiga orang. Keputusan tersebut dianggap bijak karena selama ini pemain lokal merasakan dampak dari penerapan regulasi diizinkanya memakai lima pemain asing. Kesempatan pemain lokal untuk berkembang menjadi berkurang karena jarang diturunkan dan lebih banyak dicadangkan dan penerapan regulasi baru ini secara tidak langsung akan berdampak baik kepada Timnas Indonesia.
Namun sebenarnya, dibolehkannya para pemain asing untuk berlaga di Liga Indonesia, adalah agar bisa meningkatkan kualitas para pemain kita, yang ujung-ujungnya mampu mengangkat prestasi timnas dalam kancah persaingan di tingkat Asia dan bahkan dunia.
Namun ternyata prestasi timnas kita masih tetap terpuruk. Jangankan di tingkat Asia dan dunia, untuk tingkat Asia Tenggara saja masih belum menunjukan prestasi yang diharapkan. Untuk mengalahkan Vietnam, Thailand dan bahkan Singapura saja, kita masih sulit. Jadi pertanyaannya apakah kehadiran pemain asing dalam kancah persepakbolaan kita itu, mempunyai pengaruh yang signifikan dalam menunjang prestasi timnas? Tentu sulit untuk menjawabnya.
Pertanyaan itu ternyata bukan milik kita saja. Dulu, kalangan sepakbola di Inggris dan Spanyol sempat melontarkan keluhan atas kehadiran pemain asing itu. Mereka menilai, kehadiran pemain asing hanya bermanfaat untuk meningkatkan prestasi klub serta mampu menjadi daya tarik yang kuat bagi para penggila bola. Namun pengaruh positif bagi pembentukan timnas masih perlu dipertanyakan.
Negeri jiran juga mengeluhkan keberadaan pemain asing yang tidak mampu mengangkat prestasi timnas Malaysia, sehingga dalam musim mendatang, klub di Malaysia kemungkinan tidak diperbolehkan untuk merekrut pemain asing.
Apakah kita akan mengikuti Malaysia, tentu hal itu harus dipertimbangkan untung ruginya secara lebih matang. Memang benar ada yang mengeluhkan keberadaan pemain asing menghambat pemain lokal untuk mengasah kemampuannya. Keluhan itu banyak dilontarkan para pemain lokal. Namun melarang pemain asing juga merupakan hal yang kurang bijaksana, karena di negara yang persepakbolaannya maju, kehadiran pemain asing masih diperlukan.
Keluhan pemain lokal memang bisa difahami, betapa tidak pemain lokal sekelas Zaenal Arief, Atep, Siswanto (Persib), Dicky Firasat (Persela Lamongan) harus setia berlama-lama duduk di bangku cadangan. Ini jelas merugikan bagi yang bersangkutan. Atep, Zaenal Arief dan Siswanto bahkan sempat mengancam akan hengkang dari Persib bila tetap tak dimainkan. Ada contoh yang baik, betapa bagusnya pemain lokal bila diberikan kepercayaan menjadi starter. Misalnya Persija dan Persik Kediri. Di Persija, Bambang Pamungkas, Ponaryo Astaman dan Aliyudin tetap menjadi pilihan utama. Di Persik Kediri, yang saat ini hanya memiliki Ronald Fagundez, ternyata mampu memaksimalkan pemain lokal, sebut saja Mahyudin Panggabean dan Saktiawan Sinaga. Mereka berhasil menutup lobang yang ditinggal Christian Gonzales.
Seperti diulas di atas, meniadakan pemain asing adalah tindakan yang kurang bijsakana, maka BLI sudah sepatutnya mulai merencanakan untuk mengurangi pemain asing, menjadi maksimal tiga orang di setiap klubnya dari lima orang yang saat ini diizinkan. Apabila hal itu diterapkan BLI, maka keinginan pemain lokal untuk bisa mengasah kemampuannya bisa terakomodasikan.
Dengan demikian diharapkan para pemain lokal yang potensial akan lebih sering menjadi starter, dan tidak hanya duduk di bangku cadangan. Bukankah mereka ini generasi penerus Budi Sudarsono, Ponaryo Astaman, Bambang Pamungkas, dll. Apabila para pemain lokal lebih sering bertanding diharapkan mampu meningkatkan kualitas permainannya dan ujung-ujung akan memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan prestasi timnas.
Timnas yang kuat dan mampu menunjukan prestasinya di tingkat Asia dan bahkan mungkin dunia, akan memberikan kebanggaan bagi pecinta sepakbola nasional, dan bahkan bagi Bangsa Indonesia. Dengan Timnas yang berprestasi, maka keinginan kita untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 mendatang, bukan hanya mimpi, dan tidak hanya jadi bahan tertawaan bangsa lain.
Meskipun akan berdampak baik bagi pemain lokal, tapi di satu sisi, pengurangan jumlah pemain asing ini kemungkinan besar akan berpengaruh kepada animo masyarakat dalam penyaksikan pertandingan sepak bola. Karena kompetisi di Indonesia dinilai lebih bergairah dibandingkan kompetisi di negara-negara di Asia Tenggara lainnya dan yang memiliki andil besar adalah karena banyaknya pemain asing yang merumput di sini.
Kebaradaan pemain asing di kancah persepakbolaan nasional, harus diakui menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta sepakbola di Indonesia. Apalagi saat ini banyak pemain-pemain asing yang cukup berkualitas, dan bahkan sempat tampil berlaga di piala dunia. Keadaan ini juga yang menjadikan Indonesia memiliki jatah langsung berlaga di Liga Champions Asia (LCA) atau Asian Football Confederation (AFC) Cup setiap tahun.
Indonesia memiliki kualitas kompetisi yang levelnya di atas negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Ini suatu hal yang membanggakan. Tapi, terlepas dari hal ini, kita juga harus memikirkan kondisi timnas kita yang membawa nama bangsa di ajang internasional. Jika ingin bangkit dari keterpurukkan, salah satunya dengan memberikan banyak kesempatan kepada pemain lokal berlaga di kompetisi domestik sehingga mereka yang nantinya menjadi bagian timnas adalah sosok pemain yang berkualitas.
Namun tidak sedikit juga pemain asing yang belum memperlihatkan sikap profesianal dan bahkan menjadi biang kerusuhan di semua kasta Liga Indonesia, Divisi Utama dan Liga Super Indonesia ( LSI ). Adanya aturan BLI (Badan Liga Indonesia ) yang menerapkan syarat yang ketat bagi pemain asing, sedikit banyak membuat pemain asing yang tampil di Liga Indonesia sudah semakin baik. Sebut saja Julio Lopez, Ngon Ajam, Marcio Souza, Zahrahan, Keith Cayamba Gumb, adalah pemain asing yang memang berkualitas dan menjadi pujaan para suporter. Christian Gonzalez, oleh Situs Goal dan AFC, bahkan dinobatkan sebagai 10 pemain paling berpengaruh di Asia.

3. Suporter dan Kondisi Masyarakat Indonesia

Mungkin cuma di Indonesia penonton bisa terjun langsung menggapluk wasit dan hakim garis. Memang bukan hal baru karena (hampir) setiap pertandingan selalu berakhir rusuh. Soal official saling gebuk juga bukan hal baru. Sekitar dua tahun lalu, pertandingan antara Persigo dan Persiwa juga diwarnai official saling berantem. Mestinya hak siar sepakbola di Indonesia naik harganya karena tayangan 90 menit masih ditambah bonus rusuh 2-3 jam sesudahnya.
  Di luar negeri, sepakbola atau pertandingan lain yang berujung rusuh memang beberapa kali terjadi, namun biasanya dilakukan di luar lapangan. Dengan demikian, pertandingan tidak terhenti dan fasilitas dalam stadion relatif tidak menjadi korban. Namun yang menarik, penambahan jumlah polisi ternyata tidak menyelesaikan masalah—terkadang malah bisa memicu kerusuhan yang lebih besar.
  Dari sisi suporter, sudah barang lazim fanatisme suporter klub sepakbola Indonesia seperti menjadi gejala sosial yang berujung pada kondisi sosio-ekonomi masyarakat Indonesia saat ini, yang erat berkaitan dengan kefrustrasian dan keterpurukan. Hitam putih dunia suporter Indonesia selalu berkelindan dan bertumpang tindih dengan hiruk pikuk kompleksitas bangsa Indonesia dalam segala hal yang mencakup politik, budaya, pendidikan dan ekonomi. Sepakbola Indonesia memang terlanjur identik dengan keterbelakangan, keterpurukan dan dijejali kaum pinggiran.
  Pilihan sebagai pesepakbola lebih sering didasari atas minimnya kesempatan di bidang lain yang lebih menjanjikan. Ketika dunia pendidikan tidak cukup bersahabat dengan dirinya atas kondisi ketakberpihakan dan ketakberdayaan biaya, maka sepakbola adalah pilihan yang sangat menjanjikan untuk melihat hari di depan kalau tidak mau terus menerus berdekatan dengan ketakberpihakan. Sayangnya dunia sepakbola yang menjadi harapan tidak banyak memberikan kesempatan dalam mencapai tujuan ini.
  Dalam sisi lain, menjadi suporter fanatik adalah cara untuk melepaskan diri dari persoalan sehari-hari dan pelarian dari rasa frustrasi berkepanjangan sebagai bangsa selain sebagai cara-cara untuk aktualisasi identitas dan kebutuhan terhadap pencitraan. Satu hal lagi, ajang suporter juga menjadi salah satu wadah lanjutan dari konflik kehidupan sehari-hari yang terkait pelik dengan keterdesakan demografis dan ekonomi sehingga apa yang terjadi dalam lingkungan suporter sepakbola selalu persis dengan apa yang terjadi di kehidupan bangsa Indonesia.
  Keterdesakan demografis dan ekonomi yang penulis maksud adalah penduduk Indonesia yang terus tumbuh dimana hal ini menyebabkan kondisi saling sikut dan saling kompetisi untuk bertahan sekedar survive sementara hal ini tidak berbarengan dengan kesempatan ekonomi. Pada titik limit ( batas ) kompetisi, aksi tipu-menipu, kriminalitas, penjarahan, tawuran, intoleransi menjadi warna sehari-hari dan dapat diperankan secara persis di dunia suporter sepakbola.
  Suka tidak suka, fenomena Bonek ( sebutan penggemar PERSEBAYA ) adalah salah satu contohnya. Berbagai kerusuhan antarsuporter yang selama ini sering terjadi menegaskan potret buram atas latar belakang sekaligus gejala sosial yang memangku kehidupan bangsa Indonesia secara umum. Kerusuhan dan keributan seolah sudah menjadi paket yang disiapkan dari rumah dan akan diperankan dalam menonton sepakbola nantinya.

BAB IV PENUTUP

1. Kesimpulan
  Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengaruh globalisasi sepak bola memiliki dampak positif dan negatif, yaitu :

Dampak positifnya :
1. Kita (selaku penikmat bola) disuguhkan pertandingan yang indah dan berkualitas.
2. Merupakan alat pemersatu dari semua generasi, baik tua maupun muda akan merasa menyatu jiwanya bila melihat tim nasional ( timnas ) negaranya bertanding.
3. Sepakbola menjadi harapan untuk mendapatkan penghasilan.
4. Sebagai wadah untuk mengasah bakat dan kemampuan sehingga bisa tersalurkan dan dapat menjadi pemain sepakbola yang handal dan profesional.
5. Mengajarkan sikap sportif dan berjiwa besar.
6. Menyatukan berbagai suku bangsa dengan cara ikut bergabung dengan klub penggemar salah satu tim sepakbola, misal Jakmania.
7. Mengharumkan nama bangsa dan memberikan kebanggaan bagi pecinta sepakbola nasional apabila Indonesia atau klub perwakilan dari Indonesia mengikuti turnamen dalam lingkup internasional dan dapat memenangkannya.
8. Adanya pemain asing adalah untuk meningkatkan kualitas para pemain kita agar dapat mengangkat prestasi timnas dalam kancah persaingan di tingkat Asia dan bahkan dunia.

Dampak negatif :
1. Entitas sepakbola mengalami penurunan. Hal ini bukan isapan jempol belaka, tanpa kita bayangkan setiap hari sabtu dan minggu ada beberapa stasiun televisi yang menayangkan pertandingan sepakbola secara berkala.
2. Menghambur-hamburkan uang, yaitu dengan cara pergi ke kota tempat klub favorit bermarkas dan menonton secara langsung pertandingan klub yang bersangkutan. Cara ini tentu dapat dikatakan sebagai cara yang amat memerlukan potensi ekonomi yang cukup tinggi. Apalagi bila klub favorit yang dimaksud berada di luar negeri.
3. Masyarakat yang biasanya menyaksikan sepakbola tidak jarang melakukan judi dengan cara menebak siapa yang akan memenangkan pertandingan atau menebak berapakah jumlah skor akhir pertandingan.
4. Sering terjadinya kerusuhan antar suporter yang dipicu oleh kekalahan tim favoritnya atau masa tidak terima bila ada salah satu pemain yang melanggar tapi tidak diberi hukuman.
5. Kehadiran pemain asing hanya bermanfaat untuk meningkatkan prestasi klub saja serta hanya menjadi daya tarik bagi para penggila bola. Namun bagi pembentukan timnas belum ada manfaatnya.

2. Saran
  Sepakbola memang merupakan olahraga paling populer di Indonesia. Adanya globalisasi memang membawa pro dan kontra sendiri. Tak terkecuali globalisasi sepakbola. Ada yang bersikap rasional dengan mengatakan itu hanyalah olahraga biasa. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa menjadi pemain sepakbola adalah pekerjaannya. Atau mungkin, bagi kaum hawa seperti penulis ini sepakbola adalah tontonan yang menarik.
  Macam-macam memang pendapatnya. Kita sebagai masyarakat Indonesia seharusnya menyikapinya dengan bijak. Apakah kita akan mempelajari positifnya atau mengambil negatifnya.
Dunia sepakbola yang keras dan penuh tantangan kadang memang membuat kita jadi tak terkendali. Kuncinya yaitu menjaga emosi dan tidak terpengaruh ajakan teman untuk tawuran, atau melukai dan memukul official.
  Kita harus tetap fokus pada tujuan utama. Misal bekerja, kita harus fokus pada pertandingan. Jika ada suporter yang rusuh kita diam saja. Bukankah ada keamanan yang mengurusi. Jika kita sebagai suporter, bertindaklah sebagai suporter yang sportif. Bila tim favorit kita kalah, kita harus berjiwa besar dan menerima kekalahan tadi. Pemain atau pelatihnya saja bisa menerima kekalahan tapi kita sebagai penonton malah tidak bisa menerima kekalahan.


DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://suciamalia.blogspot.com2008/11/globalisasi.html
http://fleahlit.blogspot.com/2007/08/sepakbola,judi dan masyarakat.html
http://www.google.co.id/search?q=sepak+bola&hl=id&client=firefox-a&channel=s&rls=org.mozilla:en-US:official&hs=fOr&start=20&sa=N
http://nofieiman.com/2008/01/sepakbola,emosi dan kerusuhan.html
http://www.kompas.com
http://www.rizal.blogspot.com/2009/05/pemain asing dan prestasi timnas Indonesia.html
http://www.biangbola.com
http://www.younkhendra.blogspot.com/
http://www.yudhi.blogspot.com/2009/02/ContohKaryaTulis.html

Selasa, 21 Agustus 2012

Membuat Cinta menjadi RuMit


Cinta itu bisa sederhana sekali, jatuh cinta yang tidak rumit..
Cinta itu bisa menjadi sangat sederhana, saat dua orang itu saling mencintai..
dan cinta akan menjadi sederhana saat kita tak butuh penjelasan untuk tau bahwa dia mencintai kita...
Arrggghhh!!!!
Tulisanku sendiri diatas tadi malah membuatku bingung.
Cinta itu rumit bagiku. Tak cukup hanya dengan mengenal kata "suka" saja. Cinta tak sebatas memandang fisik belaka, tapi melihat dia secara keseluruhan. Melihat dia apa adanya, melihat dia yang rapuh, melihat dia yang "lain". Melihat dia memakai baju kesayangannya terus, melihat dia lupa memakai kacamata yang justru membuatnya terlihat imut-imut, melihat dia tersenyum canggung, melihat dia kebingungan... Ahhhh.. cinta tak sesederhana itu..
Cinta itu bagiku tak sesimple yang orang pikirkan dan bicarakan. Bukankah cinta itu sendiri memang sudah mengandung kerumitan tersendiri ya...???
Kenapa kita bisa sukanya sama si A, kenapa nggak sukanya sama si B aja? kan B lebih cakep, lebih pinter... Hahhhh!!! Apa-apaan itu. Cinta saja sudah membuat kita kebingungan disaat kita kadang menyadari bahwa kita tidak jatuh cinta pada tipe idaman, pada orang yang kita pikir tepat.

Jatuh Cinta itu memang kadang datangnya begitu sederhana. Saat di jalan dan melihat dia tersenyum manis, kita bisa jatuh cinta. Saat makan dan dia tersedak, lalu kita menggodanya, kita bisa saja jatuh cinta. Saat melihat dia menari-nari "alay" kita bisa juga jadi jatuh cinta.. ^.^
Tapi,
proses kedepannya itulah yang kadang-kadang menjadi begitu rumit, menjadi tidak jelas.
Kita tidak akan pernah selalu jatuh cinta pada orang yang "tepat", maksudku dia juga single, dia juga jatuh cinta kepada kita. Kita kadang justru jatuh cinta pada orang yang "salah", dia udah punya pacar atau sedang mendekati seseorang dan TIDAK menyukai kita. Itulah yang repot, itulah yang rumittttt..!!!!
Dalam proses itulah,
segala sesuatunya bisa saja terjadi..
Hmmmm.....
Jatuh cinta itu bisa sangat sederhana,
dan cintalah yang membuatny menjadi rumit..
Membingungkan!!! Cinta dengan segala kerumitannya.
Tetapi,
jika dari awal kita tahu dan sadar kalau dia TIDAK menyukai kita. Segala urusan bisa diperbaiki dengan mudah, setidaknya kita HARUS kembali menata hati. Sedikit demi sedikit mundur perlahan, membiarkan hati ini nggak berharap lebih, membiarkan hati ini mencari cinta yang lain. Tapi, kalau dari awal kita nggak tahu perasaan dia. Hmmm... itu bakalan akan sangat menjadi ribet.
Kalau dipikir-pikir lagi,
cinta bakalan membuat kita belajar banyak ya. Belajar berbagi, belajar menjadi orang yang lebih baik, belajar mengenal sifat orang lain, belajar menghargai perasaan orang lain. Dengan cinta kita jadi lebih rajin, jadi lebih mudah tersenyum, jadi beraura cerah. ^.^
Cinta membuat kita mengenal berbagai macam perasaan sekaligus. Suka, benci, marah, sedih, bingung, kecewa, malu, takut, dan pastinya GALAU.
HaH,
Cinta ini memang RumiT. . .

Jumat, 17 Agustus 2012

Dirgahayu Indonesia 67th

“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku. . . . . .
Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku,
Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.
Hiduplah tanahku hiduplah negriku
Bangsaku, rakyatku semuanya,
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya
Indonesia raya merdeka-merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia raya merdeka-merdeka
Hiduplah Indonesia raya. . . . .”

Aku menengok ke belakang,
Dulu aku selalu mendengar lagu itu dinyanyikan saat Upacara Bendera di sekolah. Begitu syahdu, begitu khidmat, walaupun tak pernah benar-benar "in" dengan suasananya, tapi aku masih akan selalu ingat kenangan itu.
Setidaknya,
itulah salah satu caraku untuk menunjukkan kecintaanku pada Indonesia, pada negara Khatulistiwa ini. Tapi sekarang,

Entahlah,
dulu semua (sepertinya) bergembira ketika lagu itu dinyanyikan. Begitu bangga menjadi anggota Paduan Suara sekolah, begitu tegap berjalan saat memakai seragam petugas upacara.
dan Sekarang???

Tapi,
apakah mengukur rasa cinta akan Indonesia hanya dilihat dari khidmatnya kita mengikuti upacara bendera? Hanya dilihat dari tegapnya posisi kita berdiri? hanya dilihat dari lantangnya suara kita menyanyikan lagu Indonesia Raya???

Mungkin,
itu memang tetap penting, setidaknya bagiku. Tapi masih ada banyak sekali cara untuk menunjukkan rasa cinta kepada Indonesia. Masih sangat banyak. . .
Aku selalu berdoa yang terbaik untuk Indonesia, setidaknya disanalah kakiku berpijak, disanalah rumahku, disanalah semua keluargaku ada. Ini bukan tentang aku dilahirkan di Indonesia dan aku jadi harus (berkewajiban) mencintai Indonesia juga.. Tidak! Bukan itu. Ini tentang aku yang merasa damai tinggal di Indonesia, aku yang ternyata memang benar-benar sudah jatuh cinta pada Indoenesia ^.^
 INDONESIA 67 tahun yang lalu,
      INDONESIA 2012 sekarang,
Masih tetap berbendera Merah Putih, masih tetap bersimbol Garuda, masih tetap dengan lagu Indonesia Rayanya,
masih akan tetap menjadi Negara Kebangsaanku, setidaknya aku akan selalu bangga dengan Negara Indonesia ini.

Aku menatap masa depan.
Mungkin suatu hari nanti aku bisa memahami semuanya, tentang arti kemerdakaan ini. Tentang begitu kerasnya perjuangan pahlawan-pahlawan Indonesia..
Terima kasih untuk kalian pahlawan bangsa, yang sudah sangat setia dengan Indonesia, yang sudah begitu gigih merebut kemerdekaan Indonesia, yang sudah mati-matian berjuang,..
Kini giliran anak muda, kalian, kami, aku..
untuk meneruskan perjuangan ini, meneruskan banyak hal untuk tetap menjaga kemerdekaan ini. Untuk tetap berpijak pada pemikiran yang sama..

_DIRGAHAYU INDONESIA_

Rabu, 15 Agustus 2012

Patah Hati pada Orang yang Salah



Patah Hati pada orang yang salah ^.^ hmmm...??
Ini seperti kita tahu dia suka sama orang lain tapi kita tetep nekat suka sama dia. Huwaaaa..!!! Perasaan untuk tidak dilihat, perasaan yang sia-sia..
Hmmm....
pasti melelahkan, menahan perasaan pada orang yang salah. Terkadang, kita justru jatuh cinta pada orang yang seharusnya tidak kita cintai. Kita terjebak pada kamuflase semu belaka. Huft! Menyukai dia sama seperti bunuh diri. Karena memang dari awal kita tahu dia TIDAK akan menyukai kita.
Lantas,
harus menyalahkan kepada siapa?
Kepada cinta yang tiba-tiba membuat kita menyukai dia? atau kepada hati kita yang salah memilih? atau kepada dia yang terlalu sempurna untuk tidak disukai?
Hmmm.....
Urusan hati memang selalu melelahkan,
akan selalu muncul pertanyaan dan pertanyaan dalam diri. Akan muncul pembenaran-pembenaran sepihak agar rasa itu dianggap tersampaikan. Memikirkan pembenaran-pembenaran itulah yang justru melelahkan. Kita tahu itu tak mungkin, tapi tetap saja. . .
       Kenapa hati ini bisa begitu kuat mengambil alih segalanya?
Jika logika kita mengatakan, "Jangan menyukai dia!" tapi justru hati akan berkata lain, hati justru akan membuat kita semakin menyukai orang itu. Susah ya... ^.^

Patah Hati pada orang yang salah,

sedari awal perasaan ini entah kenapa tiba-tiba saja muncul, tak ada yang menginginkan perasaan ini muncul. Sama sekali tak ada. Darimana datangnya gelombang cinta yang salah ini????
Tak akan ada yang tau..
 Anggap saja kita yang salah, kita yang terlalu bodoh. Kenapa menyukai seseorang yang dari awal kita tahu dia TIDAK menyukai kita.. Apakah akan ada keajaiban dimana secara tiba-tiba dia mengalihkan hatinya untuk kita??? Apakah keajaiban itu akan muncul pada setiap orang? Pada berjuta-juta manusia di semua belahan bumi.... Ya, aku tak tahu, begitu juga dengan kalian. Susah ya..

Patah Hati pada orang yang salah,
Salahkah? Berdosakah? atau Wajar???

Ini masih menjadi misteri..
Hmmm... ku pikir akhir ceritalah yang akan menjadi jawabannya.
Kapan??????