Senin, 30 Juli 2012

Perbedaan Ini menyenangkan atau TidAk??


Aku pikir jadi berbeda dari orang lain itu menyenangkan. Yeah, setidaknya kita punya hal lain yang orang lain nggak punya, kaya misalnya punya kekuatan supernya Spiderman atau Superman. Pasti kan bakalan keren banget..
        Rasanya kok bakalan seneng banget ya, secara dadakan kita disengat laba-laba dan besoknya pas bangun tidur, tau-tau aja udah punya kekuatan super. Hmm, asyik juga kali ya kalo bisa duduk di atas atap gedung atau tower. Well, punya kekuatan-kekuatan lain juga kayanya bakal seru deh, kaya punya indra ke-6 atau hal-hal gaib macam gitulah...
Jadi berbeda dan unik itu asyik banget ya kayanya. Dan aku pikir, setiap orang pasti pengin berbeda dari yang lainnya, walaupun emang nggak ada manusia yang sama. Yang kembar identik aja ada bedanya, lha yang jelas-jelas nggak kembar pasti bakalan bedalah.

Tapi sayangnya, perbedaan ini bukan dalam bentuk punya kekuatan super atau nggak. Perbedaan ini lebih ke muka, sifat, manner dll.

Kok menurutku setiap manusia punya keinginan buat diakui, buat dilihat secara utuh, buat di"tengok". Paling males banget kan kalau semisalnya kita pake baju kembaran sama orang di jalan. Pasti bakalan cemberut manyun, trus besok-besok ogah pake baju itu lagi. Kita bilangnya BAJU sejuta umat, TAS sejuta umat, SEPATU sejuta umat, blablabla...

Iya-Iya, maka dari itu setiap orang selalu bikin ciri khas tersendiri, walaupun menurutku dalam diri mereka udah ada kekhasannya. Ada yang jadi nge-pinky biar semua tahu kalau dia itu penggila warna pink. Ada yang jadi alay biar semua tahu dia itu gaul.
Ada yang bersikap tomboy, ada yang sukanya pake kaos anti kemeja, ada yang girly, ada yang macho, ada yang gay, ada yang homoskesual.. Iya itu pilihan, pilihan mereka untuk "beda" dari yang lain. Untuk diakui kalau itu tuh dia.

Tapi ngapain sih kalau justru keinginan untuk jadi beda itu justru ngerusak diri. Buat jadi beda itu nggak harus dengan cara yang negatif, yang positif juga banyak.
Sadar nggak sadar dalam diri kita juga pasti ada satu "ciri khas" yang orang lain belum mesti punya juga lho.
Kaya misalnya "tahi lalat", it's so simple, but not many people have it. Right?
Seorang penyanyi juga terkenal gara-gara tahi lalatnya kan? Angelina Jolie aja terkenal gegara bibir sekseynya kan?

So, menurutku jadi berbeda itu nggak harus punya kekuatan super, walaupun bakalan tetep asyik kalau kita punya kekuatan ajaib.
Jadi berbeda,
Iya. Aku juga pengin jadi berbeda dari orang lain, pengin ngelihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, pengin merasakan sesuatu dari sudut yang lain, pengin memaknai hidup dengan cara yang berbeda.

Dan menurutku, kekuatan super itu bakalan "ada" kalau kita punya nyali, punya keberanian, dan itu bakalan terwujud jika kita punya ketulusan hati yang kuat. Iya nggak sih?

Sabtu, 28 Juli 2012

Review "Daun yang Jatuh Tak pernah Membenci ANgin"


Setelah kemarin nulis postingan Sedikit rasa untuk Tere-Liye dan "Review" Aku akhirnya pengin nulis tentang Tere-Liye lagi. hehehee...
Pengin me-review novelnya yang berjudul "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin", walaupun dipostingan kemarin juga sempet aku bahas sih. Tapi aku pengin lebih detail me-reviewnya. Walaupun udah terbitan sejak Juni 2010 tapi jujur aja aku baru baca bulan Mei kemarin. Wuiihhh, sangat lama bukan?
O.Ke!
The Falling Leaf doesn't Hate the Wind ini menceritakan sesuatu yang berbeda dari novel-novel lainnya. Sebuah cinta dengan perbedaan umur yang nyata. Dimana tokoh utama novel ini bernama Tania jatuh cinta kepada seseorang yang umurnya jauh diatas dia.
Tania dan adiknya Dede adalah seorang anak jalanan yang hidupnya bergantung dari mengamen dari bis yang satu ke bis yang lainnya. Mereka tinggal di rumah kardus yang lusuh bersama Ibunya. Hanya mereka bertiga tanpa seorang Ayah.
Kehidupan mulai berubah saat mereka mengamen di sebuah bis dan kaki Tania terluka. Seorang pemuda bernama Danar dengan penuh perhatian membalut luka Tania dan seterusnya Danar banyak membantu keluarga Tania menjadi lebih baik.
Ditengah-tengah kebahagiaan mereka ternyata Ibu Tania menderita kanker paru-paru dan kemudian meninggal dengan meninggalkan pesan indah untuk Tania,
"Berjanjilah, Nak.. berjanjilah kau tak akan pernah menangis sesulit apapun keadaan yang akan kau hadapai... Kau tak boleh menangis demi siapa pun mulai detik ini.. kecuali, kecuali demi dia.. kecuali demi dia.."
Setelah itu Tania dan Dede praktis tinggal di rumah Danar. Mereka banyak mengahabiskan waktu bersama, walaupun Tania sering terusik dengan hadirnya Ratna, pacar Danar.
Waktu pun berlalu dan akhirnya Tania harus pergi ke SMP di Singapura. Bukan hal yang mudah apalagi dengan ketidakpastian perasaan Danar padanya. Tania sering jatuh-bangun merasakan patah hati. Pukulan terberat itu akhirnya datang juga. Saat berita tentang pernikahan Danar dan Ratna didengarnya. Apakah Tania harus menghapus rasa cinta itu atau justru memilih menyakiti hatinya lebih dan lebih dalam lagi.

Ketika aku baca setengah lebih dari buku ini. Entah kenapa aku justru nggak rela jika Tania akhirnya bareng sama Danar. Itu yang aku pikirin. Dan endingnya emang seperti yang aku mau. Walaupun ada sesuatu yang menurutku terkesan menggantung, tapi aku bisa ngerti kok.

Over all,
ceritanya nggak biasa dan pemilihan katanya bagus banget. Pembaca diajak untuk kembali mengandai-andai tentang cinta pertamanya, tentang cinta yang tak tersampaikan, tentang cinta yang tertahan untuk kembali merenung dan berpikir :
 "Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.
dan
                                   Aku tak pernah tahu bahwa simpul itu nyata."

Kata-kata yang menyindir sekali, membuat kenangan pembaca yang pernah merasakan hal yang sama kembali teraduk-aduk. Membuat kita jadi berpikir ulang tentang cinta itu sendiri. ^_^
Buku ini aku saranin buat orang yang lagi galau dengan perasaannya. Walau emang menurutku buku-buku Tere-Liye yang lain juga banyak berisi tentang kegalauan, heheee


"Cinta tak harus memiliki. Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Dia memang amat sempurna. Tabiatnya, kebaikannya, semuanya. Tetapi dia tidak sempurna. Hanya cinta yang sempurna."

Jumat, 27 Juli 2012

I Lost My Passion


 What's your passion???
Aku merasa bahwa akhir-akhir ini aku kehilangan passion. Aku nggak bergairah lagi dalam menjalani hidup. Semua terasa hampa, terasa kosong. Aku bagai robot yang kesana kemari diatur. Setelah ini itu, setelah itu begini lagi. Hidup jadi terasa stag dan nggak menarik lagi.

I Lost my passion...
 
Aku ingin menjadi bersemangat lagi seperti dulu. Selalu dulu dan dulu lagi. Entanh mengapa dulu sepertinya aku begitu ceria, begitu bersemangat. Aku yang sekarang menjadi lebih pemikir dan terjebak pada moment yang selalu sama. I can't move on and I lost control myself..
Harusnya semakin tua, semakin dewasa aku jadi lebih bisa menemukan hal-hal baru. Tapi aku selalu takut mencoba dan mencoba. Aku takut gagal, dan sering menyerah. Padahal peduli amat sama yang orang-orang lain omongin. Aku ya aku. .  I'm different with else.
        Tapi itu semua hanya diotakku aja, itu semua hanya di batinku aja. Aku tetep jadi aku yang lebih mengutamakan kata "malas" untuk bertindak. Pengecut banget kan?
Aku kadang juga pengin berani, pengin bisa bertindak, not just silence. Yeah, kadang emang pemikiran selalu berbanding terbalik sama kenyataan ya...

Kembali ke passion....
I just can't control myself... Aku nggak bisa nangis buat mengekspresikan keadaan ini. Aku nggak bisa teriak-teriak di tepi pantai atau atas tebing kaya di film-film itu. I just in my place, do nothing...
I LOST MY PASSION....!!!!!
I want someone to understand me, but sometime I can't understanding them. Am I wrong???

Aku selalu kesulitan mencari passion ini, yang setiap waktu selalu berubaH-ubah. Aku nggak bisa mengendalikan diriku buat selalu bahagia dan bersemangat. Aku kadang jadi pribadi yang begitu murung, lalu ceria dan kembali terpuruk. Entahlah...

Selasa, 17 Juli 2012

Masih adaKah "KesempataN" Itu...???



Takdir, entah kenapa takdir justru bisa menjadi sangat kejam. Benar-benar kejam. Takdir bisa melukai perasaan banyak orang, bisa menghancurkan rangkaian mimpi berpuluh-puluh tahun.
Aku tak mengerti dengan takdir yang seperti ini???
Takdir yang justru menyakiti banyak orang.
Hampir semua tokoh utama di film ataupun novel, semuanya mempunyai takdir yang versi baik. Selalu. Mereka tak pernah benar-benar mempunyai takdir dalam yang versi yang terburuk sekalipun.

Apakah semua penulis itu bersekongkol untuk membuat plot cerita yang seperti ini???

Aku, entah kenapa, lebih suka dengan cerita takdir dalam versi buruk. Mungkin buruk untuk dua tokoh utama ini, tapi tidak bagi yang lain. Apalah artinya bahagia jika semua orang untuk sedetik saja mengutuk takdir itu sendiri. ini kehidupan! Bukan cerita roman picisan, tapi memang entah kenapa semua takdir selalu terjadi dalam versi yang terbaik.


   Tapi setiap orang sayangnya tak pernah punya “kesempatan” itu benar-benar mewujudnya takdir baiknya itu. Yang terjadi  ujungnya adalah takdir dengar versi buruk itu, yang entah kenapa justru membuat luka itu menjadi setimpal. Memang ada cerita yang tidak terselesaikan, ada tangis yang tertahan yang bahkan belum sempat menetes.
Aku tahu sepahit apapun kisah itu, masih lebih banyak orang yang akan bahagia. Luka masa lalu itu akan bisa disembuhkan seiring dengan berjalannya waktu. Tapi entah kenapa, hanya sedikit orang yang mempunyai “kesempatan” itu. Hmmmmm…..

Setiap orang selalu mempunyai bayang bahagianya sendiri. masing-masing mengharapkan yang terbaik, aku tahu itu. Kerealistisan dunia inilah yang membuatku tidak percaya lagi dengan “kesempatan” itu. Aku bahkan tak mau memikirkannya, ku anggap itu hanya akan terjadi di film atau novel saja. Untuk kehidupanku, untuk masa depanku “kesempatan” itu tak akan pernah terjadi. Tak akan.

    Kenapa aku bisa seyakin ini? Padahal semua tabir itu belum benar-benar terbuka. Aku hanya merasa saja ini hanyalah ilusiku semata. Aku tidak pernah benar-benar merasa bahwa itu akan terjadi. Sekali lagi, ini dunia nyata. Dunia tidak pernah benar-benar hanya selebar daun kelor. Untuk mereka yang ditakdirkan dengan versi baik mungkin saja akan merasakannya. Tapi untukku, dunia ini terasa sangat jauh-jauh lebar dan luas.

Langkah kaki ini tak akan pernah terhenti di lantai yang sama. Kami menginjak tanah yang  sama mungkin, kota yang sama. Tapi untuk benar-benar bertemu pada satu titik yang sama. Itu mustahil. Ini tak akan pernah terjadi, “kesempatan” itu memang benar-benar bukan milikku. Setidaknya inilah yang aku pikirkan dan rasakan.

Minggu, 15 Juli 2012

Sebenarnya Ini ApA..???

Ini masih terasa aneh. Sangat aneh.
Apa yang kuimpikan menjadi berbeda.
Pada larutan garam yang mengendap di dalam gelas. Aku terpekur sendiri. Benar-benar aneh!
coba saja tengok keluar, kepada bangunan tinggi yang menjulang sombong. Memang benar-benar terasa aneh. Masih tersisa sedikit kewarasan, hanya sedikit saja.
Lalu,
pantaskah aku mempertanyakan ini lagi???!!
LAGI.
Pada siapa???
Jingga merah di senja telah berganti menjadi pekat hitam. Waktu terus mengejar untuk mendapatkan jawabannya. Aku tak mengerti, semakin tak mengerti.
Di siang bolong yang sangat panas ini. Sekali lagi, aku berharap ada jawabannya....
Nihil.
Mengapa sekarang menjadi semu dan samar. Gambar yang terang menjadi semakin redup. Sudahlah, aku menyerah.
Ini bukan diriku.

Sabtu, 14 Juli 2012

SediKit RaSa unTuk Tere-Liye dAN "ReVieW"

Baru-baru ini,
ya sebenernya udah agak lama juga sih, aku lagi seneng mbaca bukunya Tere-Liye. Yupz, entah kenapa bukuny-bukunya itu terasa jujur dan nyata. Ya yang aku rasain juga, kadang-kadang justru yang sederhana itu jauh lebih terasa "feel"nya. heheee.
Aku nggak dibayar lho buat nulis kaya gini. Aku cuma pengin aja nulis apa yang aku rasain, cuma pengin mengekspresikan apa yang aku rasain. Nggak ada niat buat promosi juga, tapi ya kalo pada ngrasa begitu ya sudah, saia juga nggak bisa nglarang kan kalo ada yang juga pengin baca bukunya, heheeee
Aku emang belum baca semua bukunya sih. Gubrakz! baru baca yang "Daun yang jatuh tak pernah membenci Angin". Itu buku udah dari cetakan kapan ya...


Karena emang awalnya aku males aja baca buku-bukunya Tere-Liye, nggak ngerti kenapa. Ya baru akhir-akhir ini aja"ketagihan" buat baca dan baca lagi... Padahal dana buat beli buku udah nggak ada. Wah, gawat nihhh...
O.K.. Jadi fix banget nih, liburan ini aku bakal nyoba buat ngoleksi buku-buku karangan Tere-Liye. Yupz, ini udah fix banget, dan yang aku suka itu adalah kata-katanya. Bagus-bagus, jujur, kerasa nyata. Pokoknya itu pas baca itu langsung yang "Wahhh ini aku banget"...

Beberapa kata-kata yang aku suka dari bukunya yang "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" itu yang gini :
"Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya sering menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta. . .
                               dan Aku tak pernah tahu bahwa simpul itu nyata."
Nggak ngerti kenapa,
aku suka banget kata-kata itu. Wahhhhh... pokoknya nyata banget deh!

Sekarang sih aku lagi pengin baca yang judulnya "Sunset Bersama ROSIE". Baru beli tadi malem juga, ntar ah kalau ada waktu aku baca.


Baca buku itu bagi aku butuh momen yang tepat juga. Baca buku bagus tapi mood lagi jelek sama aja pesen dari novel itu nggak akan nyampe. Jadi, aku sukanya itu baca buku pas lagi momen-momennya tepat. Ceilahhh, baca buku aja ada momennya..

Nggak ngerti kenapa ya,
pas selesai baca buku yang "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" itu aku jadi kaya bikin rangkuman kata-kata gitu. Kaya mencoba mencari kata-kata akhir yang bagiku terasa sempurna.

"Aku juga tak pernah membenci 'Angin', sedingin apapun angin meniupku, sekencang apapun is berhembus. Tubuh ini akan selalu berusaha untuk kokoh.
Karena, angin yan telah tertiup pergi tak akan pernah kembali ke tempat semula..."