Setelah kemarin nulis postingan Sedikit rasa untuk Tere-Liye dan "Review" Aku akhirnya pengin nulis tentang Tere-Liye lagi. hehehee...
Pengin me-review novelnya yang berjudul "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin", walaupun dipostingan kemarin juga sempet aku bahas sih. Tapi aku pengin lebih detail me-reviewnya. Walaupun udah terbitan sejak Juni 2010 tapi jujur aja aku baru baca bulan Mei kemarin. Wuiihhh, sangat lama bukan?
O.Ke!
The Falling Leaf doesn't Hate the Wind ini menceritakan sesuatu yang berbeda dari novel-novel lainnya. Sebuah cinta dengan perbedaan umur yang nyata. Dimana tokoh utama novel ini bernama Tania jatuh cinta kepada seseorang yang umurnya jauh diatas dia.
Tania dan adiknya Dede adalah seorang anak jalanan yang hidupnya bergantung dari mengamen dari bis yang satu ke bis yang lainnya. Mereka tinggal di rumah kardus yang lusuh bersama Ibunya. Hanya mereka bertiga tanpa seorang Ayah.
Kehidupan mulai berubah saat mereka mengamen di sebuah bis dan kaki Tania terluka. Seorang pemuda bernama Danar dengan penuh perhatian membalut luka Tania dan seterusnya Danar banyak membantu keluarga Tania menjadi lebih baik.
Ditengah-tengah kebahagiaan mereka ternyata Ibu Tania menderita kanker paru-paru dan kemudian meninggal dengan meninggalkan pesan indah untuk Tania,
"Berjanjilah, Nak.. berjanjilah kau tak akan pernah menangis sesulit apapun keadaan yang akan kau hadapai... Kau tak boleh menangis demi siapa pun mulai detik ini.. kecuali, kecuali demi dia.. kecuali demi dia.."
Setelah itu Tania dan Dede praktis tinggal di rumah Danar. Mereka banyak mengahabiskan waktu bersama, walaupun Tania sering terusik dengan hadirnya Ratna, pacar Danar.
Waktu pun berlalu dan akhirnya Tania harus pergi ke SMP di Singapura. Bukan hal yang mudah apalagi dengan ketidakpastian perasaan Danar padanya. Tania sering jatuh-bangun merasakan patah hati. Pukulan terberat itu akhirnya datang juga. Saat berita tentang pernikahan Danar dan Ratna didengarnya. Apakah Tania harus menghapus rasa cinta itu atau justru memilih menyakiti hatinya lebih dan lebih dalam lagi.
Ketika aku baca setengah lebih dari buku ini. Entah kenapa aku justru nggak rela jika Tania akhirnya bareng sama Danar. Itu yang aku pikirin. Dan endingnya emang seperti yang aku mau. Walaupun ada sesuatu yang menurutku terkesan menggantung, tapi aku bisa ngerti kok.
Over all,
ceritanya nggak biasa dan pemilihan katanya bagus banget. Pembaca diajak untuk kembali mengandai-andai tentang cinta pertamanya, tentang cinta yang tak tersampaikan, tentang cinta yang tertahan untuk kembali merenung dan berpikir :
"Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.
dan
Aku tak pernah tahu bahwa simpul itu nyata."
Kata-kata yang menyindir sekali, membuat kenangan pembaca yang pernah merasakan hal yang sama kembali teraduk-aduk. Membuat kita jadi berpikir ulang tentang cinta itu sendiri. ^_^
Buku ini aku saranin buat orang yang lagi galau dengan perasaannya. Walau emang menurutku buku-buku Tere-Liye yang lain juga banyak berisi tentang kegalauan, heheee
"Cinta tak harus memiliki. Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Dia memang amat sempurna. Tabiatnya, kebaikannya, semuanya. Tetapi dia tidak sempurna. Hanya cinta yang sempurna."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar