Sabtu, 25 Februari 2012

KeGalauan'ku pada Organisasi

    
    Aku sudah kuliah, aku sudah dewasa. Begitu pikirku dulu saat sudah resmi menjadi mahasiswi dan di OSPEK. Dan setelah berjalannya waktu, aku mulai melirik dunia keorganisasian kampus, seperti HIMA atau UKM. Saat semester 1, jujur aku belum berani memikirkan soal BEM. Terlalu tinggi menurutku.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai masuk HIMA dan aktif berorganisasi. Beberapa posisi pernah aku alami, mulai dari sie humas, sie pdd, sie sponsorship, sampai sekretaris.
   Dan itu kujalani semua dengan hati senang, suka cita ikut organisasi kurasakan tetap menyenangkan. Aku selalu berusaha mengambil sisi positifnya. Aku berusaha kuat jika memang mood sedang jelek. Tapi, tetap saja. Hati manusia bukan baja, dan tubuhku tak bisa kupaksakan untuk bergerak terus. Aku butuh istirahat. Lalu aku mulai berpikir dengan kejinya.

Apa itu NIAT...???
Dan apa guna dari FUNGSI...???!
Fungsiku, fungsi kita dalam berorganisasi.
Apa untungnya kita datang rapat? Apakah kita bisa membuat perbedaan? Sepenting apakah diriku?! Apakah pendapatku akan selalu didengar.
Aku jujur, masih sering kali memikirkan ini.
Kadang,
aku sudah berusaha datang tepat waktu. Sebisa mungkin semua tanggungjawab yang diberikan sudah kukerjakan, dan apa. Rapat "molor", lalu yang datang rapat tak semua anggota. Hanya sebagian kecil saja.
Lalu apa gunanya aku jalan jauh-jauh untuk datang ke kampus?!

     Dan tiba-tiba,
sebuah sentakan mengangetkanku.
Dalam berorganisasi aku bisa dapatkan teman, bahkan sahabat-sahabat yang baik. Aku bisa menyegarkan pikiran, berbagi pengalaman, lalu menjadi lebih kuat dan bersyukur pada akhirnya.
Keluhan memang sering terjadi, namun tak sesering dulu lagi. Aku berusaha untuk belajar menahan amarah dan iri.
Ini adalah tanggungjawabku. Aku sudah memilih, dan pilihanku adalah mengikuti organisasi ini. Aku pikir, memang lebih asyik tiduran dikost sambil makan, atau pergi shoping dan bermain ke tempat baru.
     Tapi,
jika hanya terdiam diri dikost tanpa pekerjaan, juga akan sangat membosankan.
Aku mengakui itu. Manusia memang makhluk yang paling aneh, jika hujan inginnya panas, jika panas inginnya hujan.

      Aku juga berpikir soal penyesalan,
aku pernah mengikuti sebuah kepanitian, dan di tengah jalan aku mundur.
Aku takut sekali dengan keputusanku. Aku berpikir apakah aku bisa dimaafkan. Aku telah mengambil keputusan yang salah atau benar?
Semalaman aku berpikir keras sebelum mengambil keputusan ini.
Sampai akhirnya aku menyerah dan mundur, aku takut. Jika aku meneruskan ini, akan lebih banyak pihak yang dirugikan dengan sikapku.
Jadi aku memilih mundur demi kelancaran acara.

      Aku tak pernah merasa benar-benar "baik" seusai itu, lalu aku berpikir,
jika aku keluar dari dari sebuah keorganisasian. AKu berarti akan menyakiti lebih banyak orang.
Dan dengan tekad bulat, aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
    Aku bukannya ingin menyerah dan tak pernah ikut organisasi lagi. Aku justru terus berusaha maju dengan mencoba mendaftar di BEM tahun ini.
AKu berharap bisa diterima,
Aku ingin meningkatkan kualitas diriku, mengubah sikap "malasku" menjadi sikap yang lebih baik lagi.
Aku tak ingin kegagalan dimasa lalu terus membebaniku.

Selasa, 21 Februari 2012

Kebencian iNi menusukkU


Aku ingin marah.
Lalu menghilang,
Entahlah.
Aku yang jelas tak suka ini.
Dia bilang, semua palsu.
Tapi kepalsuan itu juga ada di dirinya.
Kau bilang aku untuk menjauh, tapi kau mendekat,
Ini tak adil.
 














Sampai kapan aku mengalah, sampai kapan aku kau bodohi??
Aku bukan bayi, bukan juga anak kecil.
Aku tahu mana yang suka dan tidak.
Kau menipuku??
Kau pikir aku tak tahu,
Kupikir semua jelas, semua terang, semua baik-baik saja.
Tapi kau diam-diam menipuku,

Aku tak apa-apa kalau dari awal kau jujur,
Tapi kau tak pernah jujur.
Tak pernah katakan suka, dimana letak kesalahanku???
Bukannya kau dulu bilang benci, bilang tak suka..
Kau menelan semua kata-katamu sendiri pada akhirnya,
Kau mungkin berpikir kalau ini tak apa, tapi kau menipu dirimu sendiri.
Penuh kepalsuan...

Senin, 20 Februari 2012

Aku Tak biSa Memiliki hatiNya


Aku tak bisa memiliki hatinya, utuh.
Ada seseorang lain yang telah mencurinya..
Aku tak bisa memiliki hatinya,
Aku tak bisa, apa yang harus kulakukan.
Aku hanya bisa mengaguminya dari jauh,
menatapnya lekat-lekat tanpa bisa menyentuhnya. .
Selamanya,

Mungkin hanya akan ada namanya. Selamanya aku tak pernah bisa memasuki sisi manapun dari hatinya, tak akan pernah bisa. Aku ingin menyerah saja pada perasaan ini. Aku ingin melupakannya, lalu kembali lagi ke diriku yang semula.
Aku ingin mencoba, pelan-pelan membuka pintu hatinya. Tapi tiba-tiba langsung menyerah saat melihat sinar matanya ketika menatapnya.
Aku hanya pengganggu saja, seperti tak berguna saja.
Mengharapkan hal  yang mustahil. Seharusnya aku tahu dari awal untuk tak menyukainya. Seharusnya aku tak begitu bodoh. Aku tahu, seberapa besar hal yang kulakukan. Dia tak akan pernah berpaling darinya.

Aku sekali lagi, k-a-l-a-h......

Seperti orang bodoh saja,
Aku terus menyukainya. .
Aku ingin menyerah pada perasaan ini. .
Tapi tak bisa,
Sakit,
Tapi aku ingin sakit ini. .
Seperti orang gila saja,
Aku pikir senyumnya begitu sempurna. .

Aku tahu, aku tak pantas menyukainya. Dia terlalu sempurna, dengan semua kekurangannya. Dia menjadi laki-laki yang luar biasa. Dia adalah dia. Aku menyukai dia apa adanya.
Aku pikir, ini memang yang terbaik. Tapi setengah hatiku terasa sakit. Benarkah ini??? Apakah rasa cinta ini sudah mendalam? Aku tak tahu, aku tak bisa keluarkan air mata. Aku bingung, sesungguhnya perasaan apa ini.
Setiap melihatnya, aku merasa bahagia. Jantungku berdebar, dan aku yakin. Ini suka, ini cinta. Tapi ketika menjauh, sebongkah rasa sesal datang. Aku berusaha keras untuk melupakan rasa suka ini. Tapi sungguh, ini sangat sulit.

Meskipun, waktu berhenti berputar.
Dan hanya ada aku dan dia.
Meskipun, aku berharap. .
Aku tahu,
Dia pasti mencari dirinya. .
Aku tahu,
Aku tetap saja tak bisa memiliki hatinya.
Meskipun, dunia ini runtuh sekalipun.
Aku tahu,
Hanya ada namanya dihati dia. .

Aku Tak Bisa Memiliki Hatinya. Tak akan pernah bisa. Aku tak akan pernah bisa memiliki hatinya. Tak pernah ada ruang 1% pun di hatinya untukku. Aku menanti sesuatu yang mustahil. Bagai pungguk merindukan bulan. Aku hanya bisa memimpikannya. Aku mencintai orang yang salah ternyata. Aku salah besar.

Aku tak bisa memiliki hatinya,
Tapi aku tahu,
Itu memang takdirnya.
Aku memang bukan untuk dirinya.
Aku tahu,
Aku tak bisa memiliki hatinya..
Tapi aku tetap tegar,
Aku tetap bisa berdiri,
Aku tak bisa memiliki hatinya,
Tapi dunia belum berakhir. .
Kusambut dunia baru,
Kusambut cinta yang baru. .

Patah hati?
Aku pikir itu kata yang terlalu sedih, aku tak ingin orang-orang jadi begitu sedih dan  kecewa karena patah hati. Memang sakit, tapi bukan berarti semua berakhir. Bukankah kita masih mempunyai teman, mempunyai keluarga??
Cinta ada dimana-mana, bukan harus melalui dia, atau siapapun itu. Cinta ada dimana kita bisa merasa senang, merasa bahagia dan tak bertepuk sebelah tangan.


Aku tak bisa memiliki hatinya,
Tapi aku bisa memiliki hati yang lain,
Yang ternyata memang diciptakan untukku. . .

Minggu, 19 Februari 2012

DuLu (Memori dalam Kenangan Putih-Merah)


Diluar,

Hujan telah reda. Bau tanah mulai menguap perlahan. Aku menghirup dalam-dalam. Rasanya damai sekali. Di tengah hiruk pikuk kota. Aku mengingat masa lalu.
Bagaimana aku bisa melupakannya, saat-saat terindah dalam hidup. Bernyanyi dibawah hujan, berlarian bersama sepanjang jalan. Aku kembali mengingat masa kecilku, ketika aku berseragam putih-merah.

Dulu, sepanjang jalan dihiasi dengan tawa, canda dan bahagia. Setiap hari selalu melakukan hal yang baru, mecoba mengenal dunia, tanpa takut pada apapun. Berjalan beriringan, saling bergandeng tangan.

Dulu, semua hal terasa mudah. Tak pernah sekalipun mengeluh, menatap masa depan dengan cerah. Selalu bersemangat saat pertanyaan tentang cita-cita diucapkan. Semuanya selalu tunjuk tangan saat Bu Guru bertanya,
“Besok kalau sudah besar mau jadi apa?”
Aku biasanya akan menjawab, “Mau jadi pramugari.”

Dulu, aku begitu mantap menjawab. Seperti ditakdirkan untuk menjadi seorang pramugari cantik dengan rok mini berkeliling pesawat. Aku suka pergi berlibur, biasanya ke rumah nenek atau saudara jauh di luar kota. Itulah mengapa, aku saat kecil ingin jadi pramugari.
Sepertinya, aku harus menemukan kapsul waktu dan menemui diriku saat kecil. Aku akan mengatakan,
“Hey, jadilah orang hebat. Jika kamu hebat, kamu bisa berkeliling dunia. Jadilah pemberani. Jangan takut pada apapun.”
Mungkin, aku terlalu naïf pada diriku. Aku, aku tak bisa mengubah masa lalu. Aku tak bisa mengubah diriku. Aku hanyalah aku.

Dulu, menjelajah kemanapun. Tak takut pada panas atau hujan. Berjalan beriringan di pematang sawah, menangkap ikan, berenang, berlarian bersama. Aku masih ingat, saat itu kami menjelajah sawah baru. Bukan sawah yang biasa kami tempati bermain. Kami berlarian senang, seperti di dunia Alice in Wonderland. Tapi tiba-tiba muncul ular, kami berpencar lari.
 
Dulu, aku ingat. Setiap hari begitu menyenangkan. Bermain di luar, berpanas-panasan sungguh menyenangkan. Aku tak taku hitam, aku bangga dengan diriku sendiri. Aku tak pernah memakai lotion pemutih atau anti sinar UV. Aku bingung sekarang, benarkah aku pernah seperti itu. Berani menentang paradigm orang tentang seorang perempuan yang harus feminim.

Dulu, saat-saat duka adalah ketika sakit. Lalu tak bisa bermain, hanya itu. Tak pernah mencemaskan PR, ulangan bahkan ujian. Semua dihadapi dengan senyuman, semua bergembira.

Dulu, tak pernah mengenal yang namanya musuh. Semua teman, semua sahabat. Tak pernah sakit hati pada setiap candaan, semua dianggap sama. Memang, kadang ada ucapan yang menyakiti hati, tapi seiring dengan berjalannya waktu semua baik-baik saja. Tak seperti sekarang, sebuah sindiran kecil bisa menjadi bumerang permusuhan.
Mungkinkah benar bahwa dunia anak-anak terasa lebih menyenangkan, jauh lebih damai. Mungkinkah, aku bisa tetap menjadi anak-anak saja. Tak pernah tumbuh dewasa.

Dulu, setiap tikungan bagai tantangan. Selalu belajar dari kesalahan, ucapan Guru bagai perintah untuk dilakukan. Tapi tak pernah sekalipun mengeluh.

Dulu, aku begitu bahagia. Berlarian, bersepeda, bernyanyi, bersama. Jatuh, lalu bangun. Tapi tak terasa sakit. Semuanya menyenangkan. Memori itu masih terekam jelas. Aku masih bisa mengingatnya. Aku yang dulu, aku yang lalu.
Tapi,
Masihkan aku menemukan diriku yang dulu pada diriku yang sekarang??? Waktu telah mengubah banyak pikiran, waktu telah mengubah segala cita-cita, waktu telah mengubah semuanya.
Yang dulu dianggap tak penting, sekarang dianggap penting.
Yang dulu terasa biasa, sekarang nampak luar biasa.
Bisakah aku bertahan???
Pada dunia yang semakin berubah ini, aku merindukan masa laluku. Mengharapkan waktu sedikit melambat, aku ingin tersenyum tanpa beban seperti dulu.
Aku..... bisakah????
Pada keheningan malam, semua menjadi sunyi. Menutup segala kemungkinan, hal itu bagai mimpi.
Aku sejujurnya tak pernah bisa mengubah segala hal. Aku hanya melakukan hal yang sia-sia. Tak akan pernah mungkin.
Aku tersenyum kecil,
Membayangkan dulu membuat sejuta perasaan kembali teraduk-aduk. Aku tak akan pernah bisa melupakannya, Setiap detik penuh kenangan, akan selalu ada dalam memori. Bagai membuka album photo, satu per satu gambar terekam jelas.

“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku. . . . . .
Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku,
Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.
Hiduplah tanahku hiduplah negriku
Bangsaku, rakyatku semuanya,
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya
Indonesia raya merdeka-merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia raya merdeka-merdeka
Hiduplah Indonesia raya. . . . .”


Aku menengok kebelakang,
Dulu semua bergembira ketika lagu itu dinyanyikan setiap hari senin. Sekarang...???
Entahlah,
Aku menatap masa depan.
Mungkin suatu hari nanti aku bisa memahami semuanya.

Sabtu, 18 Februari 2012

Lirik lagu Christina Perri - A Thousand Years

Sekedar pengin share aja,
beberapa hari belakangan ini aku lagi suka banget sama lagunya Christina Perri yang judulnya "A Thousand Years",
Mungkin pada belum tau ya wajah dari seorang Christina Perri, ini diaaaa


mungkin ini lagu udah agak lama ya. Secara kan buat soundtrack film Breaking Dawn part 1 nya Robert Pattison sama Kristen Stewart. Tapi ya nggak apa-apa, aku tetep aja suka kok.
Dan, ini dia liriknya,

Christina Perri – A Thousand Year

Heartbeats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I’m afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer


I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand more

 Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What’s standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand more

And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I love you for a thousand more. . .

One step closer. . .
One step closer. . .

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand more

And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I love you for a thousand more 


Jumat, 17 Februari 2012

TerKurung daLam PenJara SEpi


Mengintip pelan pada rembulan,
Menyimpan luka pada goresan luka malam,
Fajar akan datang,          
Menguak luka itu pelan-pelan..
Dan aku,
Akan kembali pada dunia nyata..
Selamat malam..


Ada perasaan hina pada diri yang menjadi egois ini. Setelah begitu bahagia karna menjadi sosok yang “dewasa”, tiba-tiba harus menjadi cengeng lagi. Aku tak tahu, siapa sebetulnya yang mengucap kata ‘dewasa’ itu pertama kali..!!

Menginginkan senyum yang telah pudar,
Ingin kembali seperti dulu. .
Tanpa cela, tanpa suara.
Mungkin ini terlalu aneh,

Pada sesuatu yang maya. Aku masih ingin tertawa bahagia karna bisa pergi ke pasar malam. Pada dunia semu aku masih ingin menangis saat tak mendapatkan arum manis. Pada kekalutan kabut, aku masih menginginkan masa kecilku.
Aku masih ingin berlarian di pematang sawah. Mencari ikan di sungai, bersepeda keliling kampung. Aku rindu bau tanah seusai hujan. Aku ingin menari di bawah hujan seperti dulu. Aku masih menginginkan masa kecilku.

Berdosakah aku?
Mengingkari takdirku pada kedewasaan..?

Aku ingin dimengerti, oleh seseorang pembawa kuda putih? Seperti dongeng anak kecil, aku ingin masuk ke dalam dunia alice in wonderland. Aku ingin menghabiskan seluruh masa hidupku disana.
Ini adalah senandung rindu orang-orang yang tak pernah dianggap, yang selalu dipandang rendah, dan tak pernah dilihat. Mereka terpinggirkan, tersisih deburan ombak jaman. Lihatlah mereka yang terpekur kedinginan dibawah jembatan. Tak pernah dilihat, tak pernah dihargai, dianggap sampah kota. Apakah kalian tahu perasaan menjadi orang seperti mereka.??
Pernah, kalian sehari, tidak-tidak, semenit saja. Kalian menjadi mereka. Pernah???! Pernah kalian berusaha mati-matian untuk mendapatkan uang. Pernah??! Merasa begitu takut, merasa tak ada teman, semua musuh. Semua seakan-akan ingin memakan kalian. Mengrogoti tubuh kalian seperti belatung.
Apakah kalian tak pernah mendengar, senandung rindu orang-orang itu. Dengar, mereka hanya berbisik. Sangat pelan, pelan sekali. Mereka tak keluarkan air mata palsu. Tapi hati mereka yang menangis, yang terisak-isak di tengah gelap malam.
Mereka selalu berdoa, agar roda benar-benar berputar. Mereka berdoa agar semua yang mustahil menjadi nyata. Senandung mereka terdengar perlahan-lahan, dengarkan. . resapi setiap detik yang kalian alami.
Mereka bersenandung di malam hari, memohon kepada Yang DiAtas.. pelan-pelan senandung mereka terbang mengelilingi bumi, lalu berputar-putar dan bersinar-sinar dikeremangan malam sampai Tuhan mengabulkannya.
Mereka juga manusia, mereka juga ingin dihargai. Pernahkah kalian menjadi egois agar semua orang mencintai kalian? Mereka juga ingin dicintai. Tatap mereka dengan lembut, lihatlah diri mereka seutuhnya.. rasakan setiap hembusan nafas mereka. Resapi makna kehidupan ini. .
Mungkin ini terdengar lebih gila,
Pada jiwa-jiwa sesat, aku membayangkan sesuatu yang lebih kejam. Mencakar tubuhku dengan kuku-kuku tajam, atau menghunuskan sedikit pisau tajam ke tubuh kurusku. Darah yang mengalir, membuat senyum itu kembali mengembang, aku inginkan luka sebagai penawar rasa sedihku.

Adakah yang melihatku,..?
Aku terkurung sepi pada dunia semu,
Tak ada yang bisa melihat..
Tak ada..

Aku bisa begitu lepas saat asing sendiri pada kemayaanku. Aku ingin menghilang rasanya. Menghilang jauh. Aku ingin diam sejenak, memaknai tiap jejak hidup ini. Lalu, bagaimana hidup ini harus berjalan??
Aku telah dibodohi jaman ini. Semua yang kulihat hanyalah topeng palsu belaka. Mengapa kita jadi tak bisa berpikir realistis? Mengapa kita harus selalu takhluk pada satu hal, “uang”. Dan mengapa kita menjadi begitu tunduk pada kekuasaan.
Mengapa kita tak bisa kembali ke jaman lampau dan mengulang ini semua agar menjadi normal kembali? Aku rasa semua memang telah menjadi kacau, tak ada yang bisa diperbaiki. Kecuali diri sendiri, hati masing-masing  jiwa yang masih takut padaNYA.

Mengukir ribuan bintang,
Pada kanvas alam tak nyata..
Aku ingin sanjungan,
Aku ingin pukulan..

Mungkin, dunia memang terlalu kejam untukku. Aku membutuhkan udara segar untuk bernafas, tapi dimana?
Aku terkurung pada dunia dewasaku. Aku masih ingin menjadi anak-anak. Aku tak ingin berpikir serumit ini. Aku bosan, aku muak.
Dunia orang dewasa penuh dengan kepalsuan, penuh topeng muslihat. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku ingin diriku yang dulu. Ini bukan aku, dan ini bukan duniaku. Aku tak nyaman dengan hidupku sendiri. Seperti dipaksa untuk jadi seperti ini?? Aku tak tahu, hanya merasa jika ini salah.
Pada lingkaran dunia, aku harus terus berjuang.
Sampai bumi berhenti pada satu titik. Dimana matahari menjadi semakin mendekat, mendekat dan mendekat. Lalu semua planet akan menjauh ketakutan.
Saat aku menjadi hamba paling tak berdaya, merasa hina untuk bertemu Tuhannya, bisakah saat itu aku menemukan udara???
Mungkinkah aku bisa memaknai hidup yang sesungguhnya saat itu? Tapi bukankah itu sudah terlambat?
Aku tak mengerti pada kehidupan fana ini, aku hanya bagai pelakon sandiwara. Setelah semua selesei, aku akan kembali pada Sang Pencipta.
Aku berpikir ini terlalu sulit, ya masih terlalu sulit untuk dipahami. Kadang semua berjalan apa adanya, begitu menyenangkan. Tapi terkadang juga jadi begitu kelam dan menyiksa batin. Ada apakah dengan semua ini. Aku terlalu takut untuk berpikir secara rasional. Mungkinkah semua baik-baik saja.
Dunia ini tak pernah sepi didiami orang-orang penuh topeng. Dimana-mana selalu ada. Mereka memakai topeng tebal untuk menutupi lubang pada hatinya. Mungkin juga untuk menutupi kebohongan besar mereka selama ini. Dunia ini, munafik sekali.

Aku memimpikan kedamaian,
Di dunia ini,
Pada kekaluatan dunia,
Aku menjadi sangat munafik..
Bisakah aku bermimpi indah malam ini..

Aku tak ingin air mata ini keluar lagi, dan dada ini menjadi semakin sesak. Pernahkah, ada seseorang yang memimpikan hal yang sama denganku?
Aku ingin semua baik-baik saja. Seperti dulu. Bisakah tak ada lagi tangis TKW? Bisakah tak ada berita korupsi lagi? Bisakah kita semua hidup damai tak saling tawuran? Bisakah??
Aku takut menjadi dewasa, aku takut mimpi-mimpi kecilku akan dirusak oleh penguasa tahta pemerintahan. Aku takut, salahkah jika diriku hanya takut.
Aku tak ingin keterombang-ambingan ini menjadi semakin hebat menggoncang hatiku. Aku tak mau, semua berakhir seperti ini..
Mengapa kalian tak pernah mengerti perasaanku. Dengarkan jeritan hatiku yang meronta ini. Aku ingin kesembuhan, aku tak ingin luka ini menjadi semakin besar. Aku terlalu takut dan masih terlalu takut untuk keluar, untuk menatap dunia yang mengejek kecengenganku.
Tertawai aku, bodohi aku. Lempar aku dengan batu, dengan palu atau sekalian saja hujani aku dengan peluru panas. Aku hanya ingin kalian tahu perasaanku. Perasaan terdalam ini, rasa muakku pada dunia, pada kesombongan, pada ketidakadilan..
Aku ingin ini berakhir dengan sempurna. Dengan tawa hangat orang-orang, atau dengan linangan air mata kebahagiaan sekalipun. Aku ingin semua menjadi baik-baik saja, secara ajaib banyak orang yang telah disembuhkan.
Entahlah, aku ingin saja pergi. Lenyap tak berbekas, tapi luka yang tergores pedih ini tak akan bisa terhapus dalam sehari, sebulan atau setahun. Mungkin aku membutuhkan obat penawar termanjur sekarang.
Apapun itu, aku berharap yang terbaik. Selalu yang terbaik untuk hal terbaik di dunia ini. Aku menginginkan kedamaian, kebahagiaan, dan kesembuhan pada bumi ini.

Membelai wajah di senja pagi,
Bayang kabut menutup sedikit rona matahari. .
Bisakah,
Aku tersenyum lagi...??

Senandung kebahagiaan telah di dengungkan oleh ayam jantan yang berkokok dengan begitu bersemangat.
Tapi, bolehkah aku menangisi hidup ini? Aku juga ingin bahagia, aku juga ingin hidupku sempurna. Tapi tidak dengan membiarkan orang lain menderita. Aku tak ingin ada air mata keluar dari orang yang ku sayang.
Aku ingin, aku saja yang menangis, aku saja yang terluka, atau aku saja yang mati. Asal bukan orang yang aku sayang.
Mungkin itu juga pikiran para pejabat atas sana. Lebih baik mereka yang korupsi, lebih baik mereka yang dipenjara daripada istri dan anak-anaknya. Hidup ini kadang terasa aneh, pikiran orang tak ada yang bisa menebaknya.
Kita memang tak pernah bisa mengenal orang 100%. Sekalipun itu orang terdekat kita. Pikiran orang adalah misteri. Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.
Aku pun akan berpikir dengan misteri itu, aku ingin mengerti banyak hal dengan misteri hidup ini.

Aku akan kembali seperti biasa,
Selamat pagi...
Mungkin, aku memang sedang bermimpi.
Benar-benar bermimpi..
Aku tak tau apakah ini memang sudah pagi?
Sepertinya aku masih nyenyak bersama alunan mimpi surga dari malaikat putih...