Mengintip
pelan pada rembulan,
Menyimpan
luka pada goresan luka malam,
Fajar akan datang,
Menguak
luka itu pelan-pelan..
Dan
aku,
Akan
kembali pada dunia nyata..
Selamat
malam..
Ada perasaan
hina pada diri yang menjadi egois ini. Setelah begitu bahagia karna menjadi
sosok yang “dewasa”, tiba-tiba harus menjadi cengeng lagi. Aku tak tahu, siapa
sebetulnya yang mengucap kata ‘dewasa’ itu pertama kali..!!
Menginginkan
senyum yang telah pudar,
Ingin
kembali seperti dulu. .
Tanpa
cela, tanpa suara.
Mungkin ini
terlalu aneh,
Pada sesuatu
yang maya. Aku masih ingin tertawa bahagia karna bisa pergi ke pasar malam. Pada dunia semu aku
masih ingin menangis saat tak mendapatkan arum manis. Pada kekalutan kabut, aku
masih menginginkan masa kecilku.
Aku
masih ingin berlarian di pematang sawah. Mencari ikan di sungai, bersepeda
keliling kampung. Aku rindu bau tanah seusai hujan. Aku ingin menari di bawah
hujan seperti dulu. Aku masih menginginkan masa kecilku.
Berdosakah
aku?
Mengingkari
takdirku pada kedewasaan..?
Aku ingin
dimengerti, oleh seseorang pembawa kuda putih? Seperti dongeng anak kecil, aku
ingin masuk ke dalam dunia alice in
wonderland. Aku ingin menghabiskan seluruh masa hidupku disana.
Ini adalah
senandung rindu orang-orang yang tak pernah dianggap, yang selalu dipandang
rendah, dan tak pernah dilihat. Mereka terpinggirkan,
tersisih deburan ombak jaman. Lihatlah mereka yang terpekur kedinginan dibawah
jembatan. Tak pernah dilihat,
tak pernah dihargai, dianggap
sampah kota. Apakah kalian tahu
perasaan menjadi orang seperti mereka.??
Pernah, kalian
sehari, tidak-tidak, semenit saja. Kalian menjadi mereka. Pernah???! Pernah
kalian berusaha mati-matian untuk mendapatkan uang. Pernah??! Merasa begitu
takut, merasa tak ada teman, semua musuh. Semua seakan-akan ingin memakan
kalian. Mengrogoti tubuh kalian seperti belatung.
Apakah kalian
tak pernah mendengar, senandung rindu orang-orang itu. Dengar, mereka hanya
berbisik. Sangat pelan, pelan sekali. Mereka
tak keluarkan air mata palsu. Tapi hati mereka yang menangis, yang terisak-isak
di tengah gelap malam.
Mereka selalu
berdoa, agar roda benar-benar berputar. Mereka berdoa agar semua yang mustahil
menjadi nyata. Senandung mereka terdengar perlahan-lahan, dengarkan. . resapi
setiap detik yang kalian alami.
Mereka
bersenandung di malam hari, memohon kepada Yang DiAtas.. pelan-pelan senandung
mereka terbang mengelilingi bumi, lalu berputar-putar dan bersinar-sinar
dikeremangan malam sampai Tuhan mengabulkannya.
Mereka juga
manusia, mereka juga ingin dihargai. Pernahkah kalian menjadi egois agar semua
orang mencintai kalian? Mereka juga ingin dicintai. Tatap mereka dengan lembut,
lihatlah diri mereka seutuhnya.. rasakan setiap hembusan nafas mereka. Resapi
makna kehidupan ini. .
Mungkin ini
terdengar lebih gila,
Pada jiwa-jiwa
sesat, aku membayangkan sesuatu yang lebih kejam. Mencakar tubuhku dengan
kuku-kuku tajam, atau menghunuskan sedikit pisau tajam ke tubuh kurusku. Darah yang mengalir,
membuat senyum itu kembali mengembang, aku inginkan luka sebagai penawar rasa
sedihku.
Adakah
yang melihatku,..?
Aku
terkurung sepi pada dunia semu,
Tak
ada yang bisa melihat..
Tak
ada..
Aku bisa begitu
lepas saat asing sendiri pada kemayaanku. Aku ingin menghilang rasanya. Menghilang jauh. Aku
ingin diam sejenak, memaknai tiap jejak hidup ini. Lalu, bagaimana hidup ini
harus berjalan??
Aku
telah dibodohi jaman ini. Semua yang kulihat hanyalah topeng palsu belaka.
Mengapa kita jadi tak bisa berpikir realistis? Mengapa kita harus selalu takhluk pada satu
hal, “uang”. Dan mengapa kita menjadi begitu tunduk pada kekuasaan.
Mengapa
kita tak bisa kembali ke jaman lampau dan mengulang ini semua agar menjadi
normal kembali? Aku
rasa semua memang telah menjadi kacau, tak ada yang bisa diperbaiki. Kecuali
diri sendiri, hati masing-masing jiwa
yang masih takut padaNYA.
Mengukir
ribuan bintang,
Pada
kanvas alam tak nyata..
Aku
ingin sanjungan,
Aku
ingin pukulan..
Mungkin, dunia
memang terlalu kejam untukku. Aku membutuhkan udara segar untuk bernafas, tapi
dimana?
Aku
terkurung pada dunia dewasaku. Aku masih ingin menjadi anak-anak. Aku tak ingin
berpikir serumit ini. Aku bosan, aku muak.
Dunia
orang dewasa penuh dengan kepalsuan, penuh topeng muslihat. Aku ingin menjadi
diriku sendiri. Aku ingin diriku yang dulu. Ini bukan aku, dan ini bukan
duniaku. Aku tak nyaman dengan hidupku sendiri. Seperti dipaksa untuk jadi
seperti ini?? Aku tak tahu, hanya merasa jika ini salah.
Pada lingkaran
dunia, aku harus terus berjuang.
Sampai bumi
berhenti pada satu titik. Dimana matahari menjadi semakin mendekat, mendekat dan mendekat. Lalu semua
planet akan menjauh ketakutan.
Saat aku menjadi
hamba paling tak berdaya, merasa hina untuk bertemu Tuhannya, bisakah saat itu
aku menemukan udara???
Mungkinkah
aku bisa memaknai hidup yang sesungguhnya saat itu? Tapi bukankah itu sudah
terlambat?
Aku tak mengerti
pada kehidupan fana ini, aku hanya bagai pelakon sandiwara. Setelah semua
selesei, aku akan kembali pada Sang Pencipta.
Aku berpikir ini
terlalu sulit, ya masih terlalu sulit untuk dipahami. Kadang semua berjalan apa
adanya, begitu menyenangkan. Tapi terkadang juga jadi begitu kelam dan menyiksa
batin. Ada apakah dengan semua ini. Aku terlalu takut untuk berpikir secara
rasional. Mungkinkah semua baik-baik saja.
Dunia ini tak
pernah sepi didiami orang-orang penuh topeng. Dimana-mana selalu ada. Mereka
memakai topeng tebal untuk menutupi lubang pada hatinya. Mungkin juga untuk
menutupi kebohongan besar mereka selama ini. Dunia ini, munafik sekali.
Aku
memimpikan kedamaian,
Di
dunia ini,
Pada
kekaluatan dunia,
Aku
menjadi sangat munafik..
Bisakah
aku bermimpi indah malam ini..
Aku tak ingin
air mata ini keluar lagi, dan dada ini menjadi semakin sesak. Pernahkah, ada
seseorang yang memimpikan hal yang sama denganku?
Aku
ingin semua baik-baik saja. Seperti dulu. Bisakah tak ada lagi tangis TKW?
Bisakah tak ada berita korupsi lagi? Bisakah kita semua hidup damai tak saling
tawuran? Bisakah??
Aku
takut menjadi dewasa, aku takut mimpi-mimpi kecilku akan dirusak oleh penguasa
tahta pemerintahan. Aku takut, salahkah jika diriku hanya takut.
Aku tak ingin
keterombang-ambingan ini menjadi semakin hebat menggoncang hatiku. Aku tak mau, semua berakhir seperti
ini..
Mengapa kalian
tak pernah mengerti perasaanku.
Dengarkan
jeritan hatiku yang meronta ini. Aku ingin kesembuhan, aku tak ingin luka ini
menjadi semakin besar. Aku terlalu takut dan masih terlalu takut untuk keluar,
untuk menatap dunia yang mengejek kecengenganku.
Tertawai aku,
bodohi aku. Lempar aku dengan batu, dengan palu atau sekalian saja hujani aku
dengan peluru panas. Aku hanya ingin kalian tahu perasaanku. Perasaan terdalam
ini, rasa muakku pada dunia, pada kesombongan, pada ketidakadilan..
Aku ingin ini
berakhir dengan sempurna. Dengan tawa hangat orang-orang, atau dengan linangan
air mata kebahagiaan sekalipun. Aku ingin semua menjadi baik-baik saja, secara
ajaib banyak orang yang telah disembuhkan.
Entahlah, aku
ingin saja pergi. Lenyap tak berbekas, tapi luka yang tergores pedih ini tak
akan bisa terhapus dalam sehari, sebulan atau setahun. Mungkin aku membutuhkan
obat penawar termanjur sekarang.
Apapun itu, aku
berharap yang terbaik. Selalu yang terbaik untuk hal terbaik di dunia ini. Aku
menginginkan kedamaian, kebahagiaan, dan kesembuhan pada bumi ini.
Membelai
wajah di senja pagi,
Bayang
kabut menutup sedikit rona matahari. .
Bisakah,
Aku
tersenyum lagi...??
Senandung
kebahagiaan telah di dengungkan oleh ayam jantan yang berkokok dengan begitu
bersemangat.
Tapi, bolehkah aku menangisi
hidup ini? Aku juga ingin bahagia, aku juga ingin hidupku sempurna. Tapi tidak dengan
membiarkan orang lain menderita. Aku tak ingin ada air mata keluar dari orang
yang ku sayang.
Aku ingin, aku
saja yang menangis, aku saja yang terluka, atau aku saja yang mati. Asal bukan
orang yang aku sayang.
Mungkin itu juga
pikiran para pejabat atas sana. Lebih baik mereka yang korupsi, lebih baik
mereka yang dipenjara daripada istri dan anak-anaknya. Hidup ini kadang terasa
aneh, pikiran orang tak ada yang bisa menebaknya.
Kita memang tak
pernah bisa mengenal orang 100%. Sekalipun itu orang terdekat kita. Pikiran orang adalah misteri. Dalamnya laut bisa
diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.
Aku pun akan
berpikir dengan misteri itu, aku ingin mengerti banyak hal dengan misteri hidup
ini.
Aku akan kembali seperti
biasa,
Selamat pagi...
Mungkin, aku memang
sedang bermimpi.
Benar-benar bermimpi..
Aku tak tau apakah ini
memang sudah pagi?
Sepertinya aku masih
nyenyak bersama alunan mimpi surga dari malaikat putih...