Jumat, 17 Februari 2012

TerKurung daLam PenJara SEpi


Mengintip pelan pada rembulan,
Menyimpan luka pada goresan luka malam,
Fajar akan datang,          
Menguak luka itu pelan-pelan..
Dan aku,
Akan kembali pada dunia nyata..
Selamat malam..


Ada perasaan hina pada diri yang menjadi egois ini. Setelah begitu bahagia karna menjadi sosok yang “dewasa”, tiba-tiba harus menjadi cengeng lagi. Aku tak tahu, siapa sebetulnya yang mengucap kata ‘dewasa’ itu pertama kali..!!

Menginginkan senyum yang telah pudar,
Ingin kembali seperti dulu. .
Tanpa cela, tanpa suara.
Mungkin ini terlalu aneh,

Pada sesuatu yang maya. Aku masih ingin tertawa bahagia karna bisa pergi ke pasar malam. Pada dunia semu aku masih ingin menangis saat tak mendapatkan arum manis. Pada kekalutan kabut, aku masih menginginkan masa kecilku.
Aku masih ingin berlarian di pematang sawah. Mencari ikan di sungai, bersepeda keliling kampung. Aku rindu bau tanah seusai hujan. Aku ingin menari di bawah hujan seperti dulu. Aku masih menginginkan masa kecilku.

Berdosakah aku?
Mengingkari takdirku pada kedewasaan..?

Aku ingin dimengerti, oleh seseorang pembawa kuda putih? Seperti dongeng anak kecil, aku ingin masuk ke dalam dunia alice in wonderland. Aku ingin menghabiskan seluruh masa hidupku disana.
Ini adalah senandung rindu orang-orang yang tak pernah dianggap, yang selalu dipandang rendah, dan tak pernah dilihat. Mereka terpinggirkan, tersisih deburan ombak jaman. Lihatlah mereka yang terpekur kedinginan dibawah jembatan. Tak pernah dilihat, tak pernah dihargai, dianggap sampah kota. Apakah kalian tahu perasaan menjadi orang seperti mereka.??
Pernah, kalian sehari, tidak-tidak, semenit saja. Kalian menjadi mereka. Pernah???! Pernah kalian berusaha mati-matian untuk mendapatkan uang. Pernah??! Merasa begitu takut, merasa tak ada teman, semua musuh. Semua seakan-akan ingin memakan kalian. Mengrogoti tubuh kalian seperti belatung.
Apakah kalian tak pernah mendengar, senandung rindu orang-orang itu. Dengar, mereka hanya berbisik. Sangat pelan, pelan sekali. Mereka tak keluarkan air mata palsu. Tapi hati mereka yang menangis, yang terisak-isak di tengah gelap malam.
Mereka selalu berdoa, agar roda benar-benar berputar. Mereka berdoa agar semua yang mustahil menjadi nyata. Senandung mereka terdengar perlahan-lahan, dengarkan. . resapi setiap detik yang kalian alami.
Mereka bersenandung di malam hari, memohon kepada Yang DiAtas.. pelan-pelan senandung mereka terbang mengelilingi bumi, lalu berputar-putar dan bersinar-sinar dikeremangan malam sampai Tuhan mengabulkannya.
Mereka juga manusia, mereka juga ingin dihargai. Pernahkah kalian menjadi egois agar semua orang mencintai kalian? Mereka juga ingin dicintai. Tatap mereka dengan lembut, lihatlah diri mereka seutuhnya.. rasakan setiap hembusan nafas mereka. Resapi makna kehidupan ini. .
Mungkin ini terdengar lebih gila,
Pada jiwa-jiwa sesat, aku membayangkan sesuatu yang lebih kejam. Mencakar tubuhku dengan kuku-kuku tajam, atau menghunuskan sedikit pisau tajam ke tubuh kurusku. Darah yang mengalir, membuat senyum itu kembali mengembang, aku inginkan luka sebagai penawar rasa sedihku.

Adakah yang melihatku,..?
Aku terkurung sepi pada dunia semu,
Tak ada yang bisa melihat..
Tak ada..

Aku bisa begitu lepas saat asing sendiri pada kemayaanku. Aku ingin menghilang rasanya. Menghilang jauh. Aku ingin diam sejenak, memaknai tiap jejak hidup ini. Lalu, bagaimana hidup ini harus berjalan??
Aku telah dibodohi jaman ini. Semua yang kulihat hanyalah topeng palsu belaka. Mengapa kita jadi tak bisa berpikir realistis? Mengapa kita harus selalu takhluk pada satu hal, “uang”. Dan mengapa kita menjadi begitu tunduk pada kekuasaan.
Mengapa kita tak bisa kembali ke jaman lampau dan mengulang ini semua agar menjadi normal kembali? Aku rasa semua memang telah menjadi kacau, tak ada yang bisa diperbaiki. Kecuali diri sendiri, hati masing-masing  jiwa yang masih takut padaNYA.

Mengukir ribuan bintang,
Pada kanvas alam tak nyata..
Aku ingin sanjungan,
Aku ingin pukulan..

Mungkin, dunia memang terlalu kejam untukku. Aku membutuhkan udara segar untuk bernafas, tapi dimana?
Aku terkurung pada dunia dewasaku. Aku masih ingin menjadi anak-anak. Aku tak ingin berpikir serumit ini. Aku bosan, aku muak.
Dunia orang dewasa penuh dengan kepalsuan, penuh topeng muslihat. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku ingin diriku yang dulu. Ini bukan aku, dan ini bukan duniaku. Aku tak nyaman dengan hidupku sendiri. Seperti dipaksa untuk jadi seperti ini?? Aku tak tahu, hanya merasa jika ini salah.
Pada lingkaran dunia, aku harus terus berjuang.
Sampai bumi berhenti pada satu titik. Dimana matahari menjadi semakin mendekat, mendekat dan mendekat. Lalu semua planet akan menjauh ketakutan.
Saat aku menjadi hamba paling tak berdaya, merasa hina untuk bertemu Tuhannya, bisakah saat itu aku menemukan udara???
Mungkinkah aku bisa memaknai hidup yang sesungguhnya saat itu? Tapi bukankah itu sudah terlambat?
Aku tak mengerti pada kehidupan fana ini, aku hanya bagai pelakon sandiwara. Setelah semua selesei, aku akan kembali pada Sang Pencipta.
Aku berpikir ini terlalu sulit, ya masih terlalu sulit untuk dipahami. Kadang semua berjalan apa adanya, begitu menyenangkan. Tapi terkadang juga jadi begitu kelam dan menyiksa batin. Ada apakah dengan semua ini. Aku terlalu takut untuk berpikir secara rasional. Mungkinkah semua baik-baik saja.
Dunia ini tak pernah sepi didiami orang-orang penuh topeng. Dimana-mana selalu ada. Mereka memakai topeng tebal untuk menutupi lubang pada hatinya. Mungkin juga untuk menutupi kebohongan besar mereka selama ini. Dunia ini, munafik sekali.

Aku memimpikan kedamaian,
Di dunia ini,
Pada kekaluatan dunia,
Aku menjadi sangat munafik..
Bisakah aku bermimpi indah malam ini..

Aku tak ingin air mata ini keluar lagi, dan dada ini menjadi semakin sesak. Pernahkah, ada seseorang yang memimpikan hal yang sama denganku?
Aku ingin semua baik-baik saja. Seperti dulu. Bisakah tak ada lagi tangis TKW? Bisakah tak ada berita korupsi lagi? Bisakah kita semua hidup damai tak saling tawuran? Bisakah??
Aku takut menjadi dewasa, aku takut mimpi-mimpi kecilku akan dirusak oleh penguasa tahta pemerintahan. Aku takut, salahkah jika diriku hanya takut.
Aku tak ingin keterombang-ambingan ini menjadi semakin hebat menggoncang hatiku. Aku tak mau, semua berakhir seperti ini..
Mengapa kalian tak pernah mengerti perasaanku. Dengarkan jeritan hatiku yang meronta ini. Aku ingin kesembuhan, aku tak ingin luka ini menjadi semakin besar. Aku terlalu takut dan masih terlalu takut untuk keluar, untuk menatap dunia yang mengejek kecengenganku.
Tertawai aku, bodohi aku. Lempar aku dengan batu, dengan palu atau sekalian saja hujani aku dengan peluru panas. Aku hanya ingin kalian tahu perasaanku. Perasaan terdalam ini, rasa muakku pada dunia, pada kesombongan, pada ketidakadilan..
Aku ingin ini berakhir dengan sempurna. Dengan tawa hangat orang-orang, atau dengan linangan air mata kebahagiaan sekalipun. Aku ingin semua menjadi baik-baik saja, secara ajaib banyak orang yang telah disembuhkan.
Entahlah, aku ingin saja pergi. Lenyap tak berbekas, tapi luka yang tergores pedih ini tak akan bisa terhapus dalam sehari, sebulan atau setahun. Mungkin aku membutuhkan obat penawar termanjur sekarang.
Apapun itu, aku berharap yang terbaik. Selalu yang terbaik untuk hal terbaik di dunia ini. Aku menginginkan kedamaian, kebahagiaan, dan kesembuhan pada bumi ini.

Membelai wajah di senja pagi,
Bayang kabut menutup sedikit rona matahari. .
Bisakah,
Aku tersenyum lagi...??

Senandung kebahagiaan telah di dengungkan oleh ayam jantan yang berkokok dengan begitu bersemangat.
Tapi, bolehkah aku menangisi hidup ini? Aku juga ingin bahagia, aku juga ingin hidupku sempurna. Tapi tidak dengan membiarkan orang lain menderita. Aku tak ingin ada air mata keluar dari orang yang ku sayang.
Aku ingin, aku saja yang menangis, aku saja yang terluka, atau aku saja yang mati. Asal bukan orang yang aku sayang.
Mungkin itu juga pikiran para pejabat atas sana. Lebih baik mereka yang korupsi, lebih baik mereka yang dipenjara daripada istri dan anak-anaknya. Hidup ini kadang terasa aneh, pikiran orang tak ada yang bisa menebaknya.
Kita memang tak pernah bisa mengenal orang 100%. Sekalipun itu orang terdekat kita. Pikiran orang adalah misteri. Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.
Aku pun akan berpikir dengan misteri itu, aku ingin mengerti banyak hal dengan misteri hidup ini.

Aku akan kembali seperti biasa,
Selamat pagi...
Mungkin, aku memang sedang bermimpi.
Benar-benar bermimpi..
Aku tak tau apakah ini memang sudah pagi?
Sepertinya aku masih nyenyak bersama alunan mimpi surga dari malaikat putih...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar