Diluar,
Hujan
telah reda. Bau tanah mulai menguap perlahan. Aku menghirup dalam-dalam. Rasanya damai sekali. Di tengah hiruk pikuk kota. Aku
mengingat masa lalu.
Bagaimana
aku bisa melupakannya, saat-saat terindah dalam hidup. Bernyanyi dibawah hujan,
berlarian bersama sepanjang jalan. Aku kembali mengingat masa kecilku, ketika
aku berseragam putih-merah.
Dulu,
sepanjang jalan dihiasi dengan tawa, canda dan bahagia. Setiap hari selalu
melakukan hal yang baru, mecoba mengenal dunia, tanpa takut pada apapun. Berjalan beriringan, saling bergandeng tangan.
Dulu,
semua hal terasa mudah. Tak pernah sekalipun mengeluh, menatap masa depan
dengan cerah. Selalu bersemangat saat pertanyaan tentang cita-cita diucapkan. Semuanya selalu tunjuk tangan saat Bu Guru bertanya,
“Besok kalau sudah besar mau jadi apa?”
Aku biasanya akan menjawab, “Mau jadi pramugari.”
Dulu, aku begitu mantap menjawab. Seperti ditakdirkan
untuk menjadi seorang pramugari cantik dengan rok mini berkeliling pesawat. Aku
suka pergi berlibur, biasanya ke rumah nenek atau saudara jauh di luar kota.
Itulah mengapa, aku saat kecil ingin jadi pramugari.
Sepertinya, aku harus menemukan kapsul waktu dan
menemui diriku saat kecil. Aku akan mengatakan,
“Hey, jadilah orang hebat. Jika kamu hebat, kamu bisa
berkeliling dunia. Jadilah pemberani. Jangan takut pada apapun.”
Mungkin, aku terlalu naïf pada diriku. Aku, aku tak
bisa mengubah masa lalu. Aku tak bisa mengubah diriku. Aku hanyalah aku.
Dulu,
menjelajah kemanapun. Tak takut pada panas atau hujan. Berjalan beriringan di
pematang sawah, menangkap ikan, berenang, berlarian bersama. Aku masih ingat, saat itu kami menjelajah sawah baru.
Bukan sawah yang biasa kami tempati bermain. Kami berlarian senang, seperti di
dunia Alice in Wonderland. Tapi tiba-tiba muncul ular, kami berpencar lari.
Dulu, aku ingat. Setiap hari begitu menyenangkan.
Bermain di luar, berpanas-panasan sungguh menyenangkan. Aku tak taku hitam, aku
bangga dengan diriku sendiri. Aku tak pernah memakai lotion pemutih atau anti
sinar UV. Aku bingung sekarang, benarkah aku pernah seperti itu. Berani
menentang paradigm orang tentang seorang perempuan yang harus feminim.
Dulu,
saat-saat duka adalah ketika sakit. Lalu tak bisa bermain, hanya itu. Tak
pernah mencemaskan PR, ulangan bahkan ujian. Semua dihadapi dengan senyuman,
semua bergembira.
Dulu,
tak pernah mengenal yang namanya musuh. Semua teman, semua sahabat. Tak pernah
sakit hati pada setiap candaan, semua dianggap sama. Memang, kadang ada ucapan yang menyakiti hati, tapi
seiring dengan berjalannya waktu semua baik-baik saja. Tak seperti sekarang,
sebuah sindiran kecil bisa menjadi bumerang permusuhan.
Mungkinkah benar bahwa dunia anak-anak terasa lebih
menyenangkan, jauh lebih damai. Mungkinkah, aku bisa tetap menjadi anak-anak
saja. Tak pernah tumbuh dewasa.
Dulu,
setiap tikungan bagai tantangan. Selalu belajar dari kesalahan, ucapan Guru
bagai perintah untuk dilakukan. Tapi tak pernah sekalipun mengeluh.
Dulu,
aku begitu bahagia. Berlarian, bersepeda, bernyanyi, bersama. Jatuh, lalu
bangun. Tapi tak terasa sakit. Semuanya menyenangkan. Memori itu masih terekam
jelas. Aku masih bisa mengingatnya. Aku yang dulu, aku yang lalu.
Tapi,
Masihkan
aku menemukan diriku yang dulu pada diriku yang sekarang??? Waktu telah
mengubah banyak pikiran, waktu telah mengubah segala cita-cita, waktu telah
mengubah semuanya.
Yang
dulu dianggap tak penting, sekarang dianggap penting.
Yang
dulu terasa biasa, sekarang nampak luar biasa.
Bisakah
aku bertahan???
Pada
dunia yang semakin berubah ini, aku merindukan masa laluku. Mengharapkan waktu
sedikit melambat, aku ingin tersenyum tanpa beban seperti dulu.
Aku.....
bisakah????
Pada
keheningan malam, semua menjadi sunyi. Menutup segala kemungkinan, hal itu
bagai mimpi.
Aku
sejujurnya tak pernah bisa mengubah segala hal. Aku hanya melakukan hal yang
sia-sia. Tak akan pernah mungkin.
Aku
tersenyum kecil,
Membayangkan
dulu membuat sejuta perasaan kembali teraduk-aduk. Aku tak akan pernah bisa
melupakannya, Setiap detik penuh kenangan, akan selalu ada dalam memori. Bagai
membuka album photo, satu per satu gambar terekam jelas.
“Indonesia tanah airku,
tanah tumpah darahku. . . . . .
Disanalah aku berdiri
jadi pandu ibuku,
Indonesia kebangsaanku
bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.
Hiduplah tanahku
hiduplah negriku
Bangsaku, rakyatku
semuanya,
Bangunlah jiwanya
bangunlah badannya untuk Indonesia raya
Indonesia raya
merdeka-merdeka
Tanahku negriku yang
kucinta
Indonesia raya
merdeka-merdeka
Hiduplah Indonesia
raya. . . . .”
Aku
menengok kebelakang,
Dulu
semua bergembira ketika lagu itu dinyanyikan setiap hari senin. Sekarang...???
Entahlah,
Aku
menatap masa depan.
Mungkin
suatu hari nanti aku bisa memahami semuanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar