Minggu, 19 Februari 2012

DuLu (Memori dalam Kenangan Putih-Merah)


Diluar,

Hujan telah reda. Bau tanah mulai menguap perlahan. Aku menghirup dalam-dalam. Rasanya damai sekali. Di tengah hiruk pikuk kota. Aku mengingat masa lalu.
Bagaimana aku bisa melupakannya, saat-saat terindah dalam hidup. Bernyanyi dibawah hujan, berlarian bersama sepanjang jalan. Aku kembali mengingat masa kecilku, ketika aku berseragam putih-merah.

Dulu, sepanjang jalan dihiasi dengan tawa, canda dan bahagia. Setiap hari selalu melakukan hal yang baru, mecoba mengenal dunia, tanpa takut pada apapun. Berjalan beriringan, saling bergandeng tangan.

Dulu, semua hal terasa mudah. Tak pernah sekalipun mengeluh, menatap masa depan dengan cerah. Selalu bersemangat saat pertanyaan tentang cita-cita diucapkan. Semuanya selalu tunjuk tangan saat Bu Guru bertanya,
“Besok kalau sudah besar mau jadi apa?”
Aku biasanya akan menjawab, “Mau jadi pramugari.”

Dulu, aku begitu mantap menjawab. Seperti ditakdirkan untuk menjadi seorang pramugari cantik dengan rok mini berkeliling pesawat. Aku suka pergi berlibur, biasanya ke rumah nenek atau saudara jauh di luar kota. Itulah mengapa, aku saat kecil ingin jadi pramugari.
Sepertinya, aku harus menemukan kapsul waktu dan menemui diriku saat kecil. Aku akan mengatakan,
“Hey, jadilah orang hebat. Jika kamu hebat, kamu bisa berkeliling dunia. Jadilah pemberani. Jangan takut pada apapun.”
Mungkin, aku terlalu naïf pada diriku. Aku, aku tak bisa mengubah masa lalu. Aku tak bisa mengubah diriku. Aku hanyalah aku.

Dulu, menjelajah kemanapun. Tak takut pada panas atau hujan. Berjalan beriringan di pematang sawah, menangkap ikan, berenang, berlarian bersama. Aku masih ingat, saat itu kami menjelajah sawah baru. Bukan sawah yang biasa kami tempati bermain. Kami berlarian senang, seperti di dunia Alice in Wonderland. Tapi tiba-tiba muncul ular, kami berpencar lari.
 
Dulu, aku ingat. Setiap hari begitu menyenangkan. Bermain di luar, berpanas-panasan sungguh menyenangkan. Aku tak taku hitam, aku bangga dengan diriku sendiri. Aku tak pernah memakai lotion pemutih atau anti sinar UV. Aku bingung sekarang, benarkah aku pernah seperti itu. Berani menentang paradigm orang tentang seorang perempuan yang harus feminim.

Dulu, saat-saat duka adalah ketika sakit. Lalu tak bisa bermain, hanya itu. Tak pernah mencemaskan PR, ulangan bahkan ujian. Semua dihadapi dengan senyuman, semua bergembira.

Dulu, tak pernah mengenal yang namanya musuh. Semua teman, semua sahabat. Tak pernah sakit hati pada setiap candaan, semua dianggap sama. Memang, kadang ada ucapan yang menyakiti hati, tapi seiring dengan berjalannya waktu semua baik-baik saja. Tak seperti sekarang, sebuah sindiran kecil bisa menjadi bumerang permusuhan.
Mungkinkah benar bahwa dunia anak-anak terasa lebih menyenangkan, jauh lebih damai. Mungkinkah, aku bisa tetap menjadi anak-anak saja. Tak pernah tumbuh dewasa.

Dulu, setiap tikungan bagai tantangan. Selalu belajar dari kesalahan, ucapan Guru bagai perintah untuk dilakukan. Tapi tak pernah sekalipun mengeluh.

Dulu, aku begitu bahagia. Berlarian, bersepeda, bernyanyi, bersama. Jatuh, lalu bangun. Tapi tak terasa sakit. Semuanya menyenangkan. Memori itu masih terekam jelas. Aku masih bisa mengingatnya. Aku yang dulu, aku yang lalu.
Tapi,
Masihkan aku menemukan diriku yang dulu pada diriku yang sekarang??? Waktu telah mengubah banyak pikiran, waktu telah mengubah segala cita-cita, waktu telah mengubah semuanya.
Yang dulu dianggap tak penting, sekarang dianggap penting.
Yang dulu terasa biasa, sekarang nampak luar biasa.
Bisakah aku bertahan???
Pada dunia yang semakin berubah ini, aku merindukan masa laluku. Mengharapkan waktu sedikit melambat, aku ingin tersenyum tanpa beban seperti dulu.
Aku..... bisakah????
Pada keheningan malam, semua menjadi sunyi. Menutup segala kemungkinan, hal itu bagai mimpi.
Aku sejujurnya tak pernah bisa mengubah segala hal. Aku hanya melakukan hal yang sia-sia. Tak akan pernah mungkin.
Aku tersenyum kecil,
Membayangkan dulu membuat sejuta perasaan kembali teraduk-aduk. Aku tak akan pernah bisa melupakannya, Setiap detik penuh kenangan, akan selalu ada dalam memori. Bagai membuka album photo, satu per satu gambar terekam jelas.

“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku. . . . . .
Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku,
Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.
Hiduplah tanahku hiduplah negriku
Bangsaku, rakyatku semuanya,
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya
Indonesia raya merdeka-merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia raya merdeka-merdeka
Hiduplah Indonesia raya. . . . .”


Aku menengok kebelakang,
Dulu semua bergembira ketika lagu itu dinyanyikan setiap hari senin. Sekarang...???
Entahlah,
Aku menatap masa depan.
Mungkin suatu hari nanti aku bisa memahami semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar