Kamis, 16 Februari 2012

:: TAKDIR ::

 
Takdir,
Membawa seuntai cerita.
Aku terpekur di sini.
Masih disini memikirkan cerita hidup,
Lantas,
Pada akhirnya.
Aku akan serahkan ini semua.
Pada . .
Tuhan!

Cinta, sesuatu yang tak akan pernah bisa dijangkau aku dan dia. Cinta, cinta yang berbeda. Atas nama apakah aku mengartikan perbedaan pada cinta? Pada dua insan yang jatuh cinta. Bukankah ini cinta, tapi bukan. Ini bukan cinta.
“Untuk apa memikirkan cinta kalau sebulan lagi kamu bakalan menikah?” tanya Tiara santai sambil memindah chanel TV di kamar tidur Avana.
“Aku cuma….” Avana menggantung jawabannya. Sepi langsung menyeruak kembali, hanya sebuah iklan tentang produk makanan yang menjadi latar.
Avana kembali dengan album fotonya. Diam, memandangi setiap lembar foto dengan syahdu.
“Kamu cuma lagi kena sindrom pra pernikahan aja kali Van.” Kata Tiara pelan. Kali ini perkatannya sedikit lebih serius dan hati-hati sekali ia ucapkan. Tiara ingin menjaga perasaan sahabatnya itu.
“Ya.. mungkin aja.” Avana kembali menggantungkan ucapannya, ada semacam kebimbangan dan keragu-raguan.
“Lalu, buat apa kamu nggak yakin? Kamu udah lima tahun pacaran sama Dhika.. Lima tahun!” tekan Tiara.
“Pacaran seumur hidup pun belum tentu, bisa ngebuat kita kenal 100%..”
Tiara mendesah pelan, sahabatnya ini sepertinya sedang galau akut. “Ya udahlah, terserah kamu aja baiknya gimana. Asal kamu inget aja, minggu depan kamu udah fitting baju.”
Avana mengangguk pelan, namun masih ada sesuatu yang mengganjal. Ini masalah hati, yang terlalu sulit untuk dipahami.
| | | |
Avana melangkahkan kakinya dengan yakin menuju gedung pertunjukkan. Dilihatnya beberapa kursi depan sudah terisi penuh. Baiklah, duduk di belakang juga tak masalah. Avana langsung menuju tempat duduk di barisan tengah pinggir dekat tembok. Sesekali pandangannya berkeliling seperti sedang mencari seseorang.

HAMPA
 
kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.


Avana ikut bertepuk tangan ketika salah satu puisi Chairil Anwar tersebut selesai dibacakan. Sangat bagus, entah mengapa seperti sedang menyindir dirinya.
Satu jam kemudian acara pembacaan puisi itu selasai dilangsungkan. Penonton mulai ramai keluar gedung, sedangkan Avana justru berjalan menuju back stage.
“Mau nyari siapa Mbak?” tanya beberapa gerombolan laki-laki muda begitu melihat Avana masuk ke dalam ruangan.
“Mmmm… “ Avana mulai mencari-cari.
“Mau minta tanda tangan ya Mbak?” tanya laki-laki berbaju biru.
“Apa mau wawancara?”
“Daripada bingung-bingung mending cari saya aja Mbak.” Goda  seorang lelaki gerondong  yang langsung saja ditertawakan  teman-temannya.
“Hesshhh, nyariiin gue tau.” Tiba-tiba muncul seorang laki-laki memakai kaos hitam dengan celana jins hitam pula.
“Oalah, nyariin si Moza to Mbak.” Laki-laki gerondong itu tampak kecewa.
“Sorry ya kalian belum beruntung.” Cengir Moza, lalu mengisyaratkan Avana untuk ikut dengannya. Avana menurut saja.
| | | |
Long time no see..” kata Moza dengan senyum khasnya kepada Avana yang duduk di depannya dengan gusar.
“Hmmm.. “ Avana tersenyum tipis, memandangi lampu-lampu kota dari atap gedung pertunjukkan di lantai tiga itu.
“Kok datar-datar aja sih. Kenapa? Nggak kangen liat aku.” Moza mendekatkan wajahnya ke muka Avana, yang langsung dibalas dengan teriakan keras gadis itu.
“Kamu apa-apaan sih.” Avana berjalan menjauh.
“Kamu nggak pernah berubah ya, selalu aja kasar sama aku.”
“Kamu juga nggak pernah berubah, untuk menambahkan rasa benciku ke kamu.”
“Dan juga rasa cinta kamu.” Lanjut Moza dengan senyumnya lagi. Avana menoleh cepat, tepat sekali ucapan Moza.
“Kamu masih ada waktu, buat berpikir ulang soal pernikahanmu.” Kata Moza sembari menepuk-nepuk sisi tembok pembatas.
“Untuk itu kah kamu muncul di hadapanku lagi?” tanya Avana getir.
“Bukan, aku nggak pernah berencana untuk mengusik hidup kamu. Aku cuma ingin mengetahui.. ya mungkin bisa dibilang takdir hidupmu.”
“Kenapa kamu pengin banget tau tentang takdir hidupku? Kenapa nggak kamu cari tau sendiri soal takdir hidup kamu.”
“Soalnya, takdir hidupmu akan menentukan takdir hidupku.” Moza tersenyum sekali lagi, lalu berjalan pergi. Meninggalkan Avana di tengah atap sendirian.
| | | |
“Kamu mau yang merah apa yang putih?” tanya Dhika sembari menyodorkan  dua ikat bunga mawar ke dekat Avana. Sedangkan saat itu Avana tengah sibuk memikirkan kata-kata Moza semalam.
“Avana.. sayang.” Panggil Dhika. Avana tak menggubris.
“Sayang!!!” kali ini Dhika terpaksa menyenggol tubuh Avana dengan sikunya. Avana pun langsung menoleh terkejut.
“Kamu pilih yang merah apa yang putih?” tanya Dhika sekali lagi.
“Yannnggggg…” Avana berpikir sebentar, “Yang putih aja.” Lalu sebisa mungkin mencoba untuk tersenyum.
“Bener kan. Aku udah tebak. Pasti yang putih kan.” Dhika tersenyum riang lalu langsung memanggil salah satu panitia Wedding Organizer mereka.
Avana berjalan keluar gedung tempat resepsi pernikahannya akan di gelar. Ya, masih satu bulan lagi. Tapi itu waktu yang cepat, terlalu cepat untuk membatalkan pernikahan.
“Kamu kenapa? Nggak suka sama gedungnya?” tanya Dhika tiba-tiba.
“Kamu percaya nggak soal takdir?” Avana memandang Dhika dengan serius. Matanya bersinar penuh harapan.
“Hah! Takdir. Bener nih kamu nanya beginian?” tanya Dhika kaget. Avana mengangguk yakin.
“Aku udah denger dari Tiara, katanya kamu lagi kena sindrom pra pernikahan. Apalah itu namanya.. ya tapi bukan berarti…”
“Ka, please.” Potong Avana. “Sekali aja. Aku pengin denger pendapat kamu, aku pengin denger apa yang kamu rasain sekarang.” Mohon Avana.
“Oke, kalau itu yang kamu mau.” Jawab Dhika.
“Hmmm apa ya. Kayanya nggak ada deh.” Dhika memukul-mukul kepalanya, berusaha agar ide-ide di kepalanya keluar.
“Dhika serius donk. Aku lagi nggak bercanda.”
“Oke.Oke. Kalau itu mau kamu.” Dhika menarik nafas panjang.
“Aku kenal sama kamu udah lima tahun, tapi aku belum bisa 100% kenal pribadi kamu seutuhnya. Sifat kamu yang cepet banget berubah, bikin aku kadang-kadang suka bingung. Nggak jelas. Tapi aku belajar untuk mengenal kamu, dan seiring berjalannya waktu. Aku berpikir bahwa aku bisa menerima kamu seutuhnya, apa adanya kamu Avana.” Dhika memegang pundak Avana.
“Menurutku, takdir tak akan bisa terwujud jika kita tak berusaha mewujudkan takdir itu. Dan sekarang, aku dan kamu sedang berusaha mewujudkan takdir kita bersama.”
| | | |
Avana memasukkan kakinya ke dalam pasir putih pantai selatan. Rasanya begitu dingin, tapi sensasinya luar biasa. Avana tersenyum kecil, lalu mulai asyik menikmati pemandangan pantai di senja itu.
“Belum puas kamu bermain seharian di pantai?” tanya Moza yang tengah duduk di pinggir pantai. Avana menggeleng.
“Aku sedang menenangkan pikiran, aku menunggu pikiranku menemukan jawaban.” Jawab Avana, memandangi deburan ombak yang semakin meninggi.
“Ahhh, menenangkan pikiran.” Moza tersenyum geli.
“Ombaaaaakkkkkk sampaikan salamku kepada Tuhannn. Sampaikan bahwa aku tengah bimbang. Ombaaakkk sampaikan salamku kepada Tuhaaannn, mengapa ada perbedaan di dunia ini.” Seru Avana kepada lautan di depannya.
Moza tersenyum, lalu berdiri dan berlari kesamping Avana.
“Ombaaakkkkk sampaikan salamku kepada Tuhanku dan Tuhan Avannnaaa, tanyakan mengapa cinta begitu rumit. Ombaaakkk, sampaikan juga mengapa takdir sulit sekali dibaca.”
Avana memandangi Moza, lalu Moza juga memandang ke arah Avana. Keduanya tertawa bersama, menertawakan hidup ini, hidup mereka. Lalu berteriak bersama,
“Ombaaakkkk, sampaikan kepada Tuhan bahwa aku mencintainyaaaa…”
| | | |
Tiara masuk ke dalam café Avana dengan muka campur aduk. Segera ditarikknya tangan Avana begitu melihat gadis itu tengah mengobrol dengan salah satu pengunjung café.
“Ra, mau kemana sih?” tanya Avana bingung.
Tiara tetap saja diam, dan berhenti di taman belakang café yang tengah sepi. Maklum, café baru sepuluh menit dibuka. Pasti masih sepi.
“Jawab dengan jujur kalau kamu tetep pengin melangsungkan pernikahan ini?” tanya Tiara tiba-tiba.
Avana terkejut. Darimana Tiara tau, apakah mungkin Tiara juga sudah bertemu dengan Moza. Berjuta pemikiran tiba-tiba menelusup ke dalam pikiran Avana.
“Dhika curhat sama aku semalem. Please, kamu pikirin ini lagi baik-baik. Besok kamu fitting baju kan?”
Avana mengangguk,
“Aku ketemu Moza.” Ucapnya pelan.
“Apa! Kamu ketemu Moza?! Dimana? Apa jangan-jangan. . .”
“Iya, gara-gara dia.” Desah Avana, lalu memandangi kolam ikan penuh koi disudut taman.
“Van, kalian berbeda. Kamu tau itu kan? Bukannya kalian dulu milih berpisah juga karena perbedaan itu. Lalu, kenapa sekarang kamu ragu lagi?”
“Ini soal takdir. Siapa sebenarnya laki-laki yang Tuhan ciptakan untukku? Apakah itu Dhika, atau justru Moza.”
“Dan kalau ternyata bukan mereka berdua?” tanya Tiara tajam.
Avana terdiam.
| | | |
Avana mengayuh sepedanya dengan riang ke dalam gang-gang sempit nan kumuh. Avana ingin mencari sensasi baru. Merasakan hidup dari sudut pandang yang lain. Mungkin bisa menjernihkan kepalanya, bisa membuatnya menemukan jawaban atas semua kebimbangannya.
Beberapa Ibu dan anak-anak berjalan riang menuju sebuah mushola di tengah kampung. Avana menghentikan kayuhannya. Berpikir secara spontan untuk tiba-tiba masuk ke dalam mushola tersebut.
Avana mengikuti beberapa Ibu-Ibu untuk mengambil wudhu, lalu dia mengambil mukena milik mushola dan ikut sholat berjama’ah. Suasananya sungguh syahdu.
“Apa yang kamu cari?”  Tiara langsung duduk dihadapan Moza.
“Heheheiii kawan lama datang berkunjung.” Seru Moza riang sembari mengitari Tiara, seakan-akan memberi tanda kalau ia ingin berbicara di luar saja.
“Ayo kita ke café, aku yang traktir.” Kata Tiara kemudian, paham apa yang dipikirkan Moza.
Dhika membuka kotak berisi surat-surat cinta Avana.  Lalu ada tiket bioskop, struk pembayaran makan di café, kupon hadiah makan, dan juga surat tilang. Ahhh surat tilang ini. Dhika memegang erat-erat. Dhika teringat ketika mereka berdua nekat pergi naik motor tanpa memakai helm, cuma gara-gara Avana ingin merasakan ngebut tanpa helm. Ada-ada saja. Dhika tersenyum geli.
Lalu secara acak dibukanya surat cinta dari Avana, hanya berisi puisi-puisi cinta konyol. Tapi Dhika terlalu amat sangat menyukainya.
“Jadi sekarang kamu mau ngrebut Avana?” tanya Tiara.
“Aku nggak pernah berniat untuk ngrebut Avana dari siapapun juga.” Jawab Moza santai lalu mengambil kopinya dan menyeruput perlahan.
“Bukannya kamu udah ngerelain dia untuk pergi?”
“Tanpa kebahagiaan.” Jawab Moza cepat, lalu tersenyum.
“Apa maksud kamu? Kamu pikir Avana selama ini nggak pernah bahagia. Lalu buat apa dia pacaran lima tahun dan nrima lamaran Dhika.”
“Sebuah pelarian barangkali.”
Tiara mendengus kesal, tapi juga kaget dengan jawaban Moza. Mungkin, karena memang jawaban Moza seutuhnya benar. Tiara menatap tajam Moza, lalu berdiri pergi.
| | | |
Avana memandangi dirinya di balik gaun putih tanpa lengan tersebut. Manik-manik di gaunnya terlihat berkilau saat berpantulan dengan sinar lampu. Avana tersenyum bahagia.
“Gimana, bagus kan?” tanya Tante Monik, desainer yang merancang baju pengantin Avana.
Avana mengangguk setuju, senyum kebahagiaan tak bisa dia sembunyikan.
“Bagus banget Tante. Tapi maaf ya Avana datengnya telat.” Avana memutar-mutar tubuhnya.
“Udah, nggak apa-apa. Kamu pasti sibuk banget kan di café?” tante Monik berjalan mendekat dan membenarkan gaunnya sebentar.
“Dulu, tante juga gugup nggak sebelum pernikahan?” tanya Avana pelan.
“Ya iyalah tentu aja. Semua wanita di dunia pasti juga akan gugup sebelum pernikahan. Tante dulu malah mau nangis sebelum janji pernikahan di gereja.”
“Lho kenapa tante?”
“Abis suami tante masa telat 2 jam.”
Avana tertawa riang, “Kok bisa tante?”
“Gara-gara apa coba?” Avana menggeleng. “Gara-gara telat bangun tidur,, semaleman begadang liat bola. Ya ampun, padahal besoknya mau nikah. Kelewatan banget kan.”
Avana tertawa lagi. Lalu mulai mengingat-ingat kebiasaan buruk Dhika, tapi sepertinya dia terlalu sempurna. Yang ada, kemudian Avana membayangkan Moza berlari-lari sambil memakai jas pernikahan dan sepatu lalu dasi.
Astaga! Avana menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Kamu kenapa Vana?” tanya tante Monik heran.
“Avana harus cepet-cepet pergi tante. Makasih tante buat bajunya.” Avana segera berjalan menuju ruang ganti diiringi tatapan bingung tante Monik.
| | | |
Avana menyetir mobilnya buru-buru, hanya satu tujuannya. Bertemu Dhika dan memastikan semuanya. Avana sudah setengah yakin dengan jawabannya, dan dia butuh Dhika untuk meyakinkan jawabannya itu. Dibukanya pintu kantor Dhika cepat.
“Dhika ada?” tanya Avana kepada sekretaris Dhika.
“Ada Bu. Masuk aja.”
Avana tersenyum, lalu berjalan masuk. Dilihatnya Dhika yang terkejut melihat kedatangannya.
“Kamu dateng kok nggak bilang-bilang. Kenapa sayang?” Dhika mencoba tersenyum, tapi tetap saja belum bisa menyembunyikan rasa herannya.
Avana terdiam, darimana dia harus mulai bertanya. Seluruh pertanyaannya seakan-akan mengitari kepalanya.
“Kamu kenapa? Kamu masih mau membahas soal keragu-raguanmu itu?” tanya Dhika. Menggeser map-mapnya menjauh, lalu berusaha memegang tangan Avana yang duduk didepannya, tapi dengan cepat Avana menarik tangannya ke bawah meja.
“Aku mau tanya sesuatu sama kamu.” Ucap Avana pelan.
“Tanya apa?” Dhika tak sabar, bagaimana mungkin pernikahannya bisa menjadi sesulit ini. Yang dia tahu, semua orang disekelilingnya selalu mudah-mudah saja dalam menjalani masa pra pernikahan.
“Apa yang akan kamu lakuin kalau ternyata kita beda agama. Apa kamu bakalan tetep mau nikahin aku?”
 “Kamu nanya apaan sih? Aku nggak ngerti apa maksud pertanyaan kamu!”
“Please, jawab aja. Apa kamu pernah mencintai seseorang yang beda agama?” tanya Avana lirih. Dhika menatap sudut tembok ruangannya. Dhika seakan tersadar dengan pertanyaan Avana.
“Kamu mau pergi dari aku?”
Avana menggeleng ragu. “Bukan pergi, tapi memastikan diri. Aku butuh waktu. Pernikahan bukanlah sesuatu yang main-main.”
“Lalu, apakah kamu akan menentang perbedaan ini?” tanya Dhika.
Avana menggeleng lagi, “Aku tak akan pernah bisa menentang takdir. Ini adalah hukum telak bagi  semua orang.”
“Kalau begitu, menikahlah denganku Avana.” Dhika berdiri dari duduknya dan memegang pundak Avana. Avana menoleh.
“Seandainya aku masih seyakin dulu.”
“Jadi kamu akan membatalkan semua ini?”
Avana mengangguk, air matanya sudah di pelupuk.
“Apa kamu yakin? Apa kamu tak pernah mencintaku?”
“Lima tahun kuhabiskan dengan mencintaimu seutuhnya. Aku tak pernah berpaling. Tapi lima tahun waktu yang terlalu singkat untuk memutuskan apakah kamu takdirku.” Avana berjalan pergi.
“Tunggu. . .”
“Lima tahun aku selalu berusaha agar bisa mengambil hatimu seutuhnya. Tapi ternyata, gengamanku tak cukup kuat untuk memegang hatimu.” Dhika meneteskan airmatanya.
“Lima tahun aku tak pernah merasa terkekang dengamu. Aku menjalani cinta seutuhnya karena hatiku yang memilihmu.”
Avana kali ini benar-benar berbalik pergi. Meninggalkan Dhika dengan linangan air matanya. Selamat tinggal Dhika.
| | | |
“Jadi karena gadis itukah kamu ragu-ragu?” tanya Hedra, laki-laki gondrong waktu itu. Moza menggeleng, tapi tetap saja memasukkan baju-bajunya ke dalam tas ransel besar miliknya.
“Lalu buat apa kamu kembali dan pergi secepat ini?”
“Untuk memastikan apa yang kurasakan.” Jawab Moza.
“Iya kan. Karena gadis itu.”
“Bukan karena dia, tapi karena hatiku. Aku kembali untuk hatiku, untukku sendiri..” Moza memasukkan baju terakhirnya.
“Ucapkan rasa terimakasihku kepada semuanya.” Kata Moza pelan.
“Pasti.”
Moza melangkah pergi, di ambang pintu dia terlihat bimbang.
“Hai penyair cinta.” Panggil Hendra, “Kau tak akan menemukan cinta dengan kedustaanmu pada cinta.”
Moza tersenyum  kecil, lalu berubah menjadi senyum khasnya. Kemudian berbalik pergi tanpa keraguan sedikitpun. Sebelum pergi ke bandara, dimasukinya gereja di tengah kota. Moza berdoa dengan khusyuk kepada Tuhan Yesusnya.
| | | |
“Ini tiketnya Pak, tujuan Perancis.” Kata seorang wanita penjaga tiket dengan sopan.
“Merci beaucoup.” Moza tersenyum tipis. Lalu menerima tiketnya, dan berjalan pergi.
“Tiket ke korea selatan masih ada?” tanya Avana di tempat yang berbeda.
“Masih, kebetulan ada armada yang saju jam lagi berangkat ke Korea.”
“Ya udah, saya ambil itu.” Jawab Avana yakin.
Moza berjalan dengan yakin menuju pesawatnya ke Perancis, sedangkan Avana dengan pasti menerima tiketnya menuju Korea Selatan.
“Aku pergi ke Utara bukan untuk meninggalkanmu Selatan,
Aku tak ingin menjadikan hubungan ini seperti magnet.
Aku ingin menemukan cara untuk mempersatukan perbedaan ini.
Aku mencintaimu,
Dengan segala perbedaan kita. .”
Avana menggenggam tiketnya erat-eratnya. Lalu berjalan pergi dengan yakin.
“Aku tak berlari menuju senja di Barat,
Aku  tak takut menyambut Matahari di Timur,
Aku ingin merenung.
Mendekat pada malam.
Aku bukan senja,
Dan kau bukan matahari..”
Moza tersenyum pada kedua penjaga yang dengan siap membukakan pintu masuk menuju ruang khusus penumpang.
Pesawat mereka terbang menuju arah yang berbeda, saling menjauh dari kutub masing-masing.
Cinta, sesuatu yang tak akan pernah bisa dijangkau aku dan dia. Cinta, cinta yang berbeda. Atas nama apakah aku mengartikan perbedaan pada cinta? Pada dua insan yang jatuh cinta. Bukankah ini cinta, tapi bukan. Ini bukan cinta.


Aku nggak tau cerita ini cukup bagus atau enggak. Aku butuh banyak masukan juga, dan cerita ini bisa akan kulanjutkan kembali...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar