Takdir,
Membawa seuntai cerita.
Aku terpekur di sini.
Masih disini memikirkan cerita hidup,
Lantas,
Pada akhirnya.
Aku akan serahkan ini semua.
Pada . .
Tuhan!
Cinta,
sesuatu yang tak akan pernah bisa dijangkau aku dan dia. Cinta, cinta yang
berbeda. Atas nama apakah aku mengartikan perbedaan pada cinta? Pada dua insan
yang jatuh cinta. Bukankah ini cinta, tapi bukan. Ini bukan cinta.
“Untuk
apa memikirkan cinta kalau sebulan lagi kamu bakalan menikah?” tanya Tiara
santai sambil memindah chanel TV di kamar tidur Avana.
“Aku
cuma….” Avana menggantung jawabannya. Sepi langsung menyeruak kembali, hanya
sebuah iklan tentang produk makanan yang menjadi latar.
Avana
kembali dengan album fotonya. Diam, memandangi setiap lembar foto dengan
syahdu.
“Kamu
cuma lagi kena sindrom pra pernikahan aja kali Van.” Kata Tiara pelan. Kali ini
perkatannya sedikit lebih serius dan hati-hati sekali ia ucapkan. Tiara ingin
menjaga perasaan sahabatnya itu.
“Ya..
mungkin aja.” Avana kembali menggantungkan ucapannya, ada semacam kebimbangan
dan keragu-raguan.
“Lalu,
buat apa kamu nggak yakin? Kamu udah lima tahun pacaran sama Dhika.. Lima
tahun!” tekan Tiara.
“Pacaran
seumur hidup pun belum tentu, bisa ngebuat kita kenal 100%..”
Tiara
mendesah pelan, sahabatnya ini sepertinya sedang galau akut. “Ya udahlah,
terserah kamu aja baiknya gimana. Asal kamu inget aja, minggu depan kamu udah
fitting baju.”
Avana
mengangguk pelan, namun masih ada sesuatu yang mengganjal. Ini masalah hati,
yang terlalu sulit untuk dipahami.
| | | |
Avana
melangkahkan kakinya dengan yakin menuju gedung pertunjukkan. Dilihatnya
beberapa kursi depan sudah terisi penuh. Baiklah, duduk di belakang juga tak
masalah. Avana langsung menuju tempat duduk di barisan tengah pinggir dekat
tembok. Sesekali pandangannya berkeliling seperti sedang mencari seseorang.
HAMPA
kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
Avana
ikut bertepuk tangan ketika salah satu puisi Chairil Anwar tersebut selesai
dibacakan. Sangat bagus, entah mengapa seperti sedang menyindir dirinya.
Satu
jam kemudian acara pembacaan puisi itu selasai dilangsungkan. Penonton mulai ramai
keluar gedung, sedangkan Avana justru berjalan menuju back stage.
“Mau
nyari siapa Mbak?” tanya beberapa gerombolan laki-laki muda begitu melihat
Avana masuk ke dalam ruangan.
“Mmmm…
“ Avana mulai mencari-cari.
“Mau
minta tanda tangan ya Mbak?” tanya laki-laki berbaju biru.
“Apa
mau wawancara?”
“Daripada
bingung-bingung mending cari saya aja Mbak.” Goda seorang lelaki gerondong yang langsung saja ditertawakan teman-temannya.
“Hesshhh,
nyariiin gue tau.” Tiba-tiba muncul seorang laki-laki memakai kaos hitam dengan
celana jins hitam pula.
“Oalah,
nyariin si Moza to Mbak.” Laki-laki gerondong itu tampak kecewa.
“Sorry
ya kalian belum beruntung.” Cengir Moza, lalu mengisyaratkan Avana untuk ikut
dengannya. Avana menurut saja.
| | | |
“Long time no see..” kata Moza dengan
senyum khasnya kepada Avana yang duduk di depannya dengan gusar.
“Hmmm..
“ Avana tersenyum tipis, memandangi lampu-lampu kota dari atap gedung
pertunjukkan di lantai tiga itu.
“Kok
datar-datar aja sih. Kenapa? Nggak kangen liat aku.” Moza mendekatkan wajahnya
ke muka Avana, yang langsung dibalas dengan teriakan keras gadis itu.
“Kamu
apa-apaan sih.” Avana berjalan menjauh.
“Kamu
nggak pernah berubah ya, selalu aja kasar sama aku.”
“Kamu
juga nggak pernah berubah, untuk menambahkan rasa benciku ke kamu.”
“Dan
juga rasa cinta kamu.” Lanjut Moza dengan senyumnya lagi. Avana menoleh cepat,
tepat sekali ucapan Moza.
“Kamu
masih ada waktu, buat berpikir ulang soal pernikahanmu.” Kata Moza sembari
menepuk-nepuk sisi tembok pembatas.
“Untuk
itu kah kamu muncul di hadapanku lagi?” tanya Avana getir.
“Bukan,
aku nggak pernah berencana untuk mengusik hidup kamu. Aku cuma ingin
mengetahui.. ya mungkin bisa dibilang takdir hidupmu.”
“Kenapa
kamu pengin banget tau tentang takdir hidupku? Kenapa nggak kamu cari tau
sendiri soal takdir hidup kamu.”
“Soalnya,
takdir hidupmu akan menentukan takdir hidupku.” Moza tersenyum sekali lagi,
lalu berjalan pergi. Meninggalkan Avana di tengah atap sendirian.
| | | |
“Kamu
mau yang merah apa yang putih?” tanya Dhika sembari menyodorkan dua ikat bunga mawar ke dekat Avana.
Sedangkan saat itu Avana tengah sibuk memikirkan kata-kata Moza semalam.
“Avana..
sayang.” Panggil Dhika. Avana tak menggubris.
“Sayang!!!”
kali ini Dhika terpaksa menyenggol tubuh Avana dengan sikunya. Avana pun
langsung menoleh terkejut.
“Kamu
pilih yang merah apa yang putih?” tanya Dhika sekali lagi.
“Yannnggggg…”
Avana berpikir sebentar, “Yang putih aja.” Lalu sebisa mungkin mencoba untuk
tersenyum.
“Bener
kan. Aku udah tebak. Pasti yang putih kan.” Dhika tersenyum riang lalu langsung
memanggil salah satu panitia Wedding
Organizer mereka.
Avana
berjalan keluar gedung tempat resepsi pernikahannya akan di gelar. Ya, masih
satu bulan lagi. Tapi itu waktu yang cepat, terlalu cepat untuk membatalkan
pernikahan.
“Kamu
kenapa? Nggak suka sama gedungnya?” tanya Dhika tiba-tiba.
“Kamu
percaya nggak soal takdir?” Avana memandang Dhika dengan serius. Matanya
bersinar penuh harapan.
“Hah!
Takdir. Bener nih kamu nanya beginian?” tanya Dhika kaget. Avana mengangguk
yakin.
“Aku
udah denger dari Tiara, katanya kamu lagi kena sindrom pra pernikahan. Apalah
itu namanya.. ya tapi bukan berarti…”
“Ka,
please.” Potong Avana. “Sekali aja. Aku pengin denger pendapat kamu, aku pengin
denger apa yang kamu rasain sekarang.” Mohon Avana.
“Oke,
kalau itu yang kamu mau.” Jawab Dhika.
“Hmmm
apa ya. Kayanya nggak ada deh.” Dhika memukul-mukul kepalanya, berusaha agar
ide-ide di kepalanya keluar.
“Dhika
serius donk. Aku lagi nggak bercanda.”
“Oke.Oke.
Kalau itu mau kamu.” Dhika menarik nafas panjang.
“Aku
kenal sama kamu udah lima tahun, tapi aku belum bisa 100% kenal pribadi kamu seutuhnya.
Sifat kamu yang cepet banget berubah, bikin aku kadang-kadang suka bingung.
Nggak jelas. Tapi aku belajar untuk mengenal kamu, dan seiring berjalannya
waktu. Aku berpikir bahwa aku bisa menerima kamu seutuhnya, apa adanya kamu
Avana.” Dhika memegang pundak Avana.
“Menurutku,
takdir tak akan bisa terwujud jika kita tak berusaha mewujudkan takdir itu. Dan
sekarang, aku dan kamu sedang berusaha mewujudkan takdir kita bersama.”
| | | |
Avana
memasukkan kakinya ke dalam pasir putih pantai selatan. Rasanya begitu dingin,
tapi sensasinya luar biasa. Avana tersenyum kecil, lalu mulai asyik menikmati
pemandangan pantai di senja itu.
“Belum
puas kamu bermain seharian di pantai?” tanya Moza yang tengah duduk di pinggir
pantai. Avana menggeleng.
“Aku
sedang menenangkan pikiran, aku menunggu pikiranku menemukan jawaban.” Jawab
Avana, memandangi deburan ombak yang semakin meninggi.
“Ahhh,
menenangkan pikiran.” Moza tersenyum geli.
“Ombaaaaakkkkkk
sampaikan salamku kepada Tuhannn. Sampaikan bahwa aku tengah bimbang. Ombaaakkk
sampaikan salamku kepada Tuhaaannn, mengapa ada perbedaan di dunia ini.” Seru
Avana kepada lautan di depannya.
Moza
tersenyum, lalu berdiri dan berlari kesamping Avana.
“Ombaaakkkkk
sampaikan salamku kepada Tuhanku dan Tuhan Avannnaaa, tanyakan mengapa cinta
begitu rumit. Ombaaakkk, sampaikan juga mengapa takdir sulit sekali dibaca.”
Avana
memandangi Moza, lalu Moza juga memandang ke arah Avana. Keduanya tertawa
bersama, menertawakan hidup ini, hidup mereka. Lalu berteriak bersama,
“Ombaaakkkk,
sampaikan kepada Tuhan bahwa aku mencintainyaaaa…”
| | | |
Tiara
masuk ke dalam café Avana dengan muka campur aduk. Segera ditarikknya tangan
Avana begitu melihat gadis itu tengah mengobrol dengan salah satu pengunjung
café.
“Ra,
mau kemana sih?” tanya Avana bingung.
Tiara
tetap saja diam, dan berhenti di taman belakang café yang tengah sepi. Maklum,
café baru sepuluh menit dibuka. Pasti masih sepi.
“Jawab
dengan jujur kalau kamu tetep pengin melangsungkan pernikahan ini?” tanya Tiara
tiba-tiba.
Avana
terkejut. Darimana Tiara tau, apakah mungkin Tiara juga sudah bertemu dengan
Moza. Berjuta pemikiran tiba-tiba menelusup ke dalam pikiran Avana.
“Dhika
curhat sama aku semalem. Please, kamu pikirin ini lagi baik-baik. Besok kamu
fitting baju kan?”
Avana
mengangguk,
“Aku
ketemu Moza.” Ucapnya pelan.
“Apa!
Kamu ketemu Moza?! Dimana? Apa jangan-jangan. . .”
“Iya,
gara-gara dia.” Desah Avana, lalu memandangi kolam ikan penuh koi disudut
taman.
“Van,
kalian berbeda. Kamu tau itu kan? Bukannya kalian dulu milih berpisah juga
karena perbedaan itu. Lalu, kenapa sekarang kamu ragu lagi?”
“Ini
soal takdir. Siapa sebenarnya laki-laki yang Tuhan ciptakan untukku? Apakah itu
Dhika, atau justru Moza.”
“Dan
kalau ternyata bukan mereka berdua?” tanya Tiara tajam.
Avana
terdiam.
| | | |
Avana
mengayuh sepedanya dengan riang ke dalam gang-gang sempit nan kumuh. Avana ingin
mencari sensasi baru. Merasakan hidup dari sudut pandang yang lain. Mungkin
bisa menjernihkan kepalanya, bisa membuatnya menemukan jawaban atas semua
kebimbangannya.
Beberapa
Ibu dan anak-anak berjalan riang menuju sebuah mushola di tengah kampung. Avana
menghentikan kayuhannya. Berpikir secara spontan untuk tiba-tiba masuk ke dalam
mushola tersebut.
Avana
mengikuti beberapa Ibu-Ibu untuk mengambil wudhu, lalu dia mengambil mukena
milik mushola dan ikut sholat berjama’ah. Suasananya sungguh syahdu.
“Apa yang kamu cari?” Tiara langsung duduk dihadapan Moza.
“Heheheiii kawan lama datang
berkunjung.” Seru Moza riang sembari mengitari Tiara, seakan-akan memberi tanda
kalau ia ingin berbicara di luar saja.
“Ayo kita ke café, aku yang
traktir.” Kata Tiara kemudian, paham apa yang dipikirkan Moza.
Dhika
membuka kotak berisi surat-surat cinta Avana.
Lalu ada tiket bioskop, struk pembayaran makan di café, kupon hadiah
makan, dan juga surat tilang. Ahhh surat tilang ini. Dhika memegang erat-erat. Dhika
teringat ketika mereka berdua nekat pergi naik motor tanpa memakai helm, cuma
gara-gara Avana ingin merasakan ngebut tanpa helm. Ada-ada saja. Dhika tersenyum
geli.
Lalu
secara acak dibukanya surat cinta dari Avana, hanya berisi puisi-puisi cinta
konyol. Tapi Dhika terlalu amat sangat menyukainya.
“Jadi sekarang kamu mau
ngrebut Avana?” tanya Tiara.
“Aku nggak pernah berniat
untuk ngrebut Avana dari siapapun juga.” Jawab Moza santai lalu mengambil
kopinya dan menyeruput perlahan.
“Bukannya kamu udah
ngerelain dia untuk pergi?”
“Tanpa kebahagiaan.” Jawab
Moza cepat, lalu tersenyum.
“Apa maksud kamu? Kamu pikir
Avana selama ini nggak pernah bahagia. Lalu buat apa dia pacaran lima tahun dan
nrima lamaran Dhika.”
“Sebuah pelarian
barangkali.”
Tiara mendengus kesal, tapi
juga kaget dengan jawaban Moza. Mungkin, karena memang jawaban Moza seutuhnya
benar. Tiara menatap tajam Moza, lalu berdiri pergi.
| | | |
Avana
memandangi dirinya di balik gaun putih tanpa lengan tersebut. Manik-manik di
gaunnya terlihat berkilau saat berpantulan dengan sinar lampu. Avana tersenyum
bahagia.
“Gimana,
bagus kan?” tanya Tante Monik, desainer yang merancang baju pengantin Avana.
Avana
mengangguk setuju, senyum kebahagiaan tak bisa dia sembunyikan.
“Bagus
banget Tante. Tapi maaf ya Avana datengnya telat.” Avana memutar-mutar
tubuhnya.
“Udah,
nggak apa-apa. Kamu pasti sibuk banget kan di café?” tante Monik berjalan
mendekat dan membenarkan gaunnya sebentar.
“Dulu,
tante juga gugup nggak sebelum pernikahan?” tanya Avana pelan.
“Ya
iyalah tentu aja. Semua wanita di dunia pasti juga akan gugup sebelum
pernikahan. Tante dulu malah mau nangis sebelum janji pernikahan di gereja.”
“Lho
kenapa tante?”
“Abis
suami tante masa telat 2 jam.”
Avana
tertawa riang, “Kok bisa tante?”
“Gara-gara
apa coba?” Avana menggeleng. “Gara-gara telat bangun tidur,, semaleman begadang
liat bola. Ya ampun, padahal besoknya mau nikah. Kelewatan banget kan.”
Avana
tertawa lagi. Lalu mulai mengingat-ingat kebiasaan buruk Dhika, tapi sepertinya
dia terlalu sempurna. Yang ada, kemudian Avana membayangkan Moza berlari-lari
sambil memakai jas pernikahan dan sepatu lalu dasi.
Astaga!
Avana menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Kamu
kenapa Vana?” tanya tante Monik heran.
“Avana
harus cepet-cepet pergi tante. Makasih tante buat bajunya.” Avana segera
berjalan menuju ruang ganti diiringi tatapan bingung tante Monik.
| | | |
Avana
menyetir mobilnya buru-buru, hanya satu tujuannya. Bertemu Dhika dan memastikan
semuanya. Avana sudah setengah yakin dengan jawabannya, dan dia butuh Dhika untuk
meyakinkan jawabannya itu. Dibukanya pintu kantor Dhika cepat.
“Dhika
ada?” tanya Avana kepada sekretaris Dhika.
“Ada
Bu. Masuk aja.”
Avana
tersenyum, lalu berjalan masuk. Dilihatnya Dhika yang terkejut melihat
kedatangannya.
“Kamu
dateng kok nggak bilang-bilang. Kenapa sayang?” Dhika mencoba tersenyum, tapi
tetap saja belum bisa menyembunyikan rasa herannya.
Avana
terdiam, darimana dia harus mulai bertanya. Seluruh pertanyaannya seakan-akan
mengitari kepalanya.
“Kamu
kenapa? Kamu masih mau membahas soal keragu-raguanmu itu?” tanya Dhika.
Menggeser map-mapnya menjauh, lalu berusaha memegang tangan Avana yang duduk
didepannya, tapi dengan cepat Avana menarik tangannya ke bawah meja.
“Aku
mau tanya sesuatu sama kamu.” Ucap Avana pelan.
“Tanya
apa?” Dhika tak sabar, bagaimana mungkin pernikahannya bisa menjadi sesulit
ini. Yang dia tahu, semua orang disekelilingnya selalu mudah-mudah saja dalam
menjalani masa pra pernikahan.
“Apa
yang akan kamu lakuin kalau ternyata kita beda agama. Apa kamu bakalan tetep
mau nikahin aku?”
“Kamu nanya apaan sih? Aku nggak ngerti apa
maksud pertanyaan kamu!”
“Please,
jawab aja. Apa kamu pernah mencintai seseorang yang beda agama?” tanya Avana
lirih. Dhika menatap sudut tembok ruangannya. Dhika seakan tersadar dengan
pertanyaan Avana.
“Kamu
mau pergi dari aku?”
Avana
menggeleng ragu. “Bukan pergi, tapi memastikan diri. Aku butuh waktu.
Pernikahan bukanlah sesuatu yang main-main.”
“Lalu,
apakah kamu akan menentang perbedaan ini?” tanya Dhika.
Avana
menggeleng lagi, “Aku tak akan pernah bisa menentang takdir. Ini adalah hukum
telak bagi semua orang.”
“Kalau
begitu, menikahlah denganku Avana.” Dhika berdiri dari duduknya dan memegang
pundak Avana. Avana menoleh.
“Seandainya
aku masih seyakin dulu.”
“Jadi
kamu akan membatalkan semua ini?”
Avana
mengangguk, air matanya sudah di pelupuk.
“Apa
kamu yakin? Apa kamu tak pernah mencintaku?”
“Lima
tahun kuhabiskan dengan mencintaimu seutuhnya. Aku tak pernah berpaling. Tapi
lima tahun waktu yang terlalu singkat untuk memutuskan apakah kamu takdirku.”
Avana berjalan pergi.
“Tunggu.
. .”
“Lima
tahun aku selalu berusaha agar bisa mengambil hatimu seutuhnya. Tapi ternyata,
gengamanku tak cukup kuat untuk memegang hatimu.” Dhika meneteskan airmatanya.
“Lima
tahun aku tak pernah merasa terkekang dengamu. Aku menjalani cinta seutuhnya
karena hatiku yang memilihmu.”
Avana
kali ini benar-benar berbalik pergi. Meninggalkan Dhika dengan linangan air
matanya. Selamat tinggal Dhika.
| | | |
“Jadi
karena gadis itukah kamu ragu-ragu?” tanya Hedra, laki-laki gondrong waktu itu.
Moza menggeleng, tapi tetap saja memasukkan baju-bajunya ke dalam tas ransel
besar miliknya.
“Lalu
buat apa kamu kembali dan pergi secepat ini?”
“Untuk
memastikan apa yang kurasakan.” Jawab Moza.
“Iya
kan. Karena gadis itu.”
“Bukan
karena dia, tapi karena hatiku. Aku kembali untuk hatiku, untukku sendiri..”
Moza memasukkan baju terakhirnya.
“Ucapkan
rasa terimakasihku kepada semuanya.” Kata Moza pelan.
“Pasti.”
Moza
melangkah pergi, di ambang pintu dia terlihat bimbang.
“Hai
penyair cinta.” Panggil Hendra, “Kau tak akan menemukan cinta dengan
kedustaanmu pada cinta.”
Moza
tersenyum kecil, lalu berubah menjadi
senyum khasnya. Kemudian berbalik pergi tanpa keraguan sedikitpun. Sebelum
pergi ke bandara, dimasukinya gereja di tengah kota. Moza berdoa dengan khusyuk
kepada Tuhan Yesusnya.
| | | |
“Ini
tiketnya Pak, tujuan Perancis.” Kata seorang wanita penjaga tiket dengan sopan.
“Merci
beaucoup.” Moza tersenyum tipis. Lalu menerima tiketnya, dan berjalan pergi.
“Tiket ke korea selatan
masih ada?” tanya Avana di tempat yang berbeda.
“Masih, kebetulan ada armada
yang saju jam lagi berangkat ke Korea.”
“Ya udah, saya ambil itu.”
Jawab Avana yakin.
Moza
berjalan dengan yakin menuju pesawatnya ke Perancis, sedangkan Avana dengan
pasti menerima tiketnya menuju Korea Selatan.
“Aku pergi ke Utara bukan untuk
meninggalkanmu Selatan,
Aku tak ingin menjadikan hubungan ini
seperti magnet.
Aku ingin menemukan cara untuk
mempersatukan perbedaan ini.
Aku mencintaimu,
Dengan segala perbedaan kita. .”
Avana
menggenggam tiketnya erat-eratnya. Lalu berjalan pergi dengan yakin.
“Aku tak berlari menuju senja di Barat,
Aku tak takut menyambut Matahari di Timur,
Aku ingin merenung.
Mendekat pada malam.
Aku bukan senja,
Dan kau bukan matahari..”
Moza
tersenyum pada kedua penjaga yang dengan siap membukakan pintu masuk menuju
ruang khusus penumpang.
Pesawat
mereka terbang menuju arah yang berbeda, saling menjauh dari kutub
masing-masing.
Cinta,
sesuatu yang tak akan pernah bisa dijangkau aku dan dia. Cinta, cinta yang
berbeda. Atas nama apakah aku mengartikan perbedaan pada cinta? Pada dua insan
yang jatuh cinta. Bukankah ini cinta, tapi bukan. Ini bukan cinta.
Aku nggak tau cerita ini cukup bagus atau enggak. Aku butuh banyak masukan juga, dan cerita ini bisa akan kulanjutkan kembali...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar