Apa bedanya menjadi dewasa karena usia dan menjadi dewasa karena keadaan???
Yupz,
tua belum berarti dewasa dan muda tak jua berarti sok dewasa. Okey, memang kadang-kadang para remaja juga pengin dihargai pendapatnya, tapi bagi orang-orang yang merasa udah sok dewasa secara umur tapi logika dan pikiran enggak, kata-kata si remaja ini dianggap sok tahu, sok asal komen aja, sok-sokan tua tapi nggak ngerti apa-apa.
Lha, gimana kalau memang si remaja ini udah ngerti bahkan lebih ngerti daripada orang-orang dewasa itu?
Lha, gimana kalau memang si remaja ini udah ngerti bahkan lebih ngerti daripada orang-orang dewasa itu?
Itulah yang aku namain dinamika hidup. Yah, emang ternyata beneran kok kadang kita yang dianggap udah dewasa ini harus mendengarkan pendapat remaja-remaja masa kini. Toh ada juga kok yang bicara berdasarkan pengalaman hidupnya, nggak semua asal nyeplos aja.
Dan pernah kepikiran nggak sih,
kadang jadi anak kecil itu juahhh lebih menyenangkan daripada kehidupan orang dewasa yang terkesan monoton.
Kuliah : ikut organisasi kampus, belajar yang rajin, temen aktivis semua, ikut-ikutan ngurusin masalah Negara yang kadang suara kita juga nggak didenger, dan pacaran sama sesama temen organisasi, trus berusaha lulus, habis lulus nyari kerja, nikah, dan akan menjadi sangat stag karena pasti, habis ini langsung itu, habis itu begini lagi, kalau ngak ya berarti kaya gini. Iya kan?
Atau kalau nggak ya berarti gini,
Kuliah : bebas dari orangtua, maen ke mall, nyobain masuk club malem, trus kuliah lagi, lupa ngerjain tugas, pulang kost, ngegame, main lagi, makan. Pacaran sama siapa aja yang dirasa keren-tajir, dan ritme hidup akan seperti itu sampai lulus. Kembali lagi, hidup akan terasa menjadi stag lagi.
And then,
apa yang bisa kita lakuin?
Kadang begitu enaknya menjadi anak kecil dengan sejuta kepolosan mereka. Bercita-cita menjadi apapun, lho, pepatah kan bilang "Gantungkan cita-citamu setinggi mungkin."
Anak kecil tak akan pernah tahu bagaimana perjuangan untuk menjadi apa yang dia cita-citakan, yang orangtua mereka selalu katakan adalah "Belajar yang rajin yaa, berdoa yang banyak aja."
Anak kecil tak akan pernah tahu bagaimana perjuangan untuk menjadi apa yang dia cita-citakan, yang orangtua mereka selalu katakan adalah "Belajar yang rajin yaa, berdoa yang banyak aja."
Hidup emang tak semudah membalikkan telapak tangan. . .
Aku selama ini selalu tak pernah menang jika bicara sama yang lebih tua. Entah kenapa ujung-ujungnya selalu aku yang akhirnya disalahkan dan diceramahi habis-habisan.
Menjadi dewasa dan dimengerti itu sungguh menyulitkan..
Semua bisa saja memberikan nasehat, harus ini harus itu, tapi menjadi sosok yang dianggap dewasa itu kadang justru sangat membenci yang namanya nasehat.
Kadang kita yang merasa dewasa ini berpikir, "Lho aku kan udah dewasa, kenapa diceramahin lagi sih? Bukannya aku udah bisa ngasih nasehat juga ya?"
Kemerasaan atas kedewasaan ini justru menjadikan bumerang. Jadi, siapa sih yang harusnya berhak memeberikan nasehat? Yang sudah tua-tua dan keriput itu?
Jujur,
menjadi anak kecil itu masih sangat menyenangkan. Ketidaktahuan akan kejamnya dunia justru sangat mengasikkan.
dan kadang,
bersikap kekanak-kanakan itu sangat melegakan. Mengingatkan kita bahwa kita masih tidak kehilangan akan rasa itu.
Toh bukannya memang dari bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, tua, lalu kembali menjadi anak-anak lagi ya pemikirannya???
Yah,
hanya sedikit berbagi pemikiran saja.
Good Night...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar